jump to navigation

Kekayaan Tiada Habisnya, Inginkah Engkau Memilikinya? November 10, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
comments closed

“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.” Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”

Qona’ah – merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami “kegilaan” terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah; kamu akan tenang hidupnya”; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Fondasi Sifat Qona’ah

Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau memiliki harta itu?

Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:

1. Ilmu agama

Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.

“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am:32)

Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa ‘Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.

2. Keimanan yang mantap

Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali.{pembagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin.

Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)

“Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR.Ahmad)

4. Perjuangan Mental dan Bersabar

Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.

“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR.Muslim)

Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.

Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona’ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona’ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro’. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.

5. Berdoa dan Memohon kepada Allah

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR.Muslim)

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).

6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah

Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona’ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.”

7. Melihat yang “di bawah”

“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-Muslim)

Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.

Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.

Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada “dibawah” kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona’ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR.Bukhori)

Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qona’ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.

Penutup

Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona’ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona’ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku “berilmu” namun tidak memiliki sifat qona’ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona’ah. Amiin.

===Catatan:Diringkas dari: “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya” :Syaikh Abdulloh bin Abdul Hamid Al Atsari dari buku: Zuhud Dunia Cinta Akhirat, Sikap Hidup Para Nabi dan Orang-Orang Sholih: Ibnu Rojab Al-Hanbali, dll. Penerbit: Al-Qowam, Solo. Halaman 87-117 == Semoga bermanfaat.

Sumber: Jilbab.or.id

DI MANA ALLAH ? November 8, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Situs Salafy.
comments closed


Tulisan Ustad Abdul Hakim bin Amir Abdat

Saya akan menjelaskan salah satu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang telah hilang dari dada sebagian kaum muslimin, yaitu : tentang istiwaa Allah di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya. Sehingga bila kita bertanya kepada saudara kita ; Dimana Allah ? Kita akan mendapat dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur..! :

1. Allah ada pada diri kita ini ..!
2. Allah dimana-mana di segala tempat !

Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu’tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya dari ahlul bid’ah.

Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :

”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.

Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :

1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
2. Imam Muslim (2/70-71)
3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
4. Imam Nasa’i (3/13-14)
5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
6. Imam Daarimi 91/353-354)
7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya ”Al-Muntaqa” (No. 212)
9. Imam Baihaqy di Kitabnya ”Sunanul Kubra” (2/249-250)
10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya ”Tauhid” (hal. 121-122)
11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni).
12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya ”As-Sunnah ” (No. 652).

PEMBAHASAN

Pertama.
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ary, yaitu ; mereka mempunyai i’tiqad (berpendapat) :

”ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?”

Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya !?.

Jawablah kepada mereka dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar” (An-Nur : 16)

”Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan ” (Al-Mu’minun : 91)

”Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar”. (Al-Isra : 43)

Berkata Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini, di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Artinya :

”Dan demikian ra’yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : ”Dimana Allah ? ”Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !. Didalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah ?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SAW”.

Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadits ini di kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah (hal: 39): ”Di dalam hadits Rasulullah SAW ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu’min”.

Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya sesungguhnya Allah diatas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SAW (kepada budak perempuan): ”Dimana Allah ?”. Mendustakan perkataan orang yang mengatakan : ”Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .?

Kedua
Lafadz ‘As-Samaa” menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) :
Artinya :

”(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang tinggi dan berada diatas. Dikatakan : Atap rumah langit-langit rumah”.

Dinamakan ”Awan” itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia. Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)” (Al-Baqarah : 22).

Adapun huruf ”Fii” dalam lafadz hadits ”Fiis-Samaa” bermakna ” ‘Alaa” seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla:
Artinya :

”Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi” (At-Taubah : 2)

”Mereka tersesat di muka bumi” (Al-Ma’dah : 26).

Lafadz ”Fil Arldhii” dalam dua ayat diatas maknanya ” ‘Alal Arldhii”, Maksudnya : Allah ‘Azza wa Jalla berada dipihak/diarah yang tinggi -di atas langit- yakni di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk menyerupai-Nya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”. (As-Syura : 4)

”Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya” (Al-ikhlas : 4)

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)

”Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).

Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Mereka tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan ”Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-baqarah : 58-59).

Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai ‘Arsy. Ia menguasi langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas ‘Arsy-Nya dalam tujuh tempat di dalam kitab-Nya Al-Qur’an. Dan semuanya dengan lafadz ”istawaa”. Ini menjadi dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara hakekat, bukan ”istawla” dengan jalan menta’wilnya.

Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya :

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istawaa” (Thaha : 5)

”Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.

Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu :

1. Surat Al-A’raf ayat 54
2. Surat Yunus ayat 3
3. Surat Ar-Ra’du ayat 2
4. Surat Al-Furqaan ayat 59
5. Surat As-Sajdah ayat 4
6. Surat Al-Hadid ayat 4

Menurut lughoh/bahasa, apabila fi’il istiwaa dimuta’adikan oleh huruf ‘Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Dan berhentilah kapal (Nuh) diatas gunung/bukit Judi” (Hud : 44).

Di ayat ini fi’il ”istawaa” dimuta’addikan oleh huruf ‘Ala yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti diatas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa ”Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi” yakni menta’wil lafadz ”istawat” dengan lafadz ”istawlat” yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13).

Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya :

”Ia istawaa (bersemayam) di atas ”Arsy” maknanya :

”Ia berada tinggi di atas ”Arsy”

(Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya ”At-Tauhid” (hal: 101):
Artinya :

”Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A’laa (yang Maha Besar dan Maha tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagimana (kaum) Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah, dengan mengatakan ”Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) ‘Arsy-Nya tidak istawaa!”. Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan : ”Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)” Tetapi mereka mengucapkan : ”Hinthah (gandum).?”. Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha tinggi, begitu pula dengan (kaum) Jahmiyyah”.

Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia, bahwa Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari pengetahuan-Nya). Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah istawaa dengan istawla yakni menguasai ‘Arsy sedangkan Dzat Allah berada dimana-mana/tiap-tiap tempat !!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang disifatkan kaum Jahmiyyah !

Adapun madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di atas ‘Arsy-Nya tanpa :

1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
2. Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
3. Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?

Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :

”Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.

(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46).

Perhatikan !

1. ‘Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada diatas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :

”Dan ‘Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya”.

Berkata Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat (terpercaya).

Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid”).

2. Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- tidak tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Azza wa Jalla.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.

Ketiga
Penunjukan Beberapa Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang Shahih.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)

”Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk : 17).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -setelah membawakan dua ayat di atas di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 115).
Artinya :

”Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu ; apa yang ada diantara keduanya sesungguhnya Ia di atas langit”.

Berkata Imam Abul Hasan Al-Asy’ary di kitabnya ”Al-Ibanah Fi Ushulid-diayaanah hal : 48) setelah membawakan ayat di atas : ”Di atas langit-langit itu adalah ‘Arsy, maka tatkala ‘Arsy berada di atas langit-langit. Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas langit ?” Karena sesungguhnya Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy yang berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan ‘As-Samaa” (langit), maka ‘Arsy berada di atas langit. Bukankah yang dimaksud apabila Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang diatas langit ?” yakni seluruh langit ! Tetapi yang Ia kehendaki adalah ‘Arsy yang berada di atas langit”.

Saya berpandangan (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dua ayat di atas sangat tegas sekali yang tidak dapat dibantah dan ta’wil bahwa lafadz ”MAN” tidak mungkin difahami selain dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah firman Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi’il (kata kerja) ”yakhtsif” (Ia menenggelamkan) dan ”yartsil” (Ia mengirim) adalah ”huwa” (Dia) ? siapakah Dia itu kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla.

Firman Allah :
Artinya :

”Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).

Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz ”fawqo” (di atas) apabila di majrur dengan huruf ”min” dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta’wil dengan ketinggian martabat, sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 111): ”Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Artinya :

”Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : ”Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
Artinya :

”Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah ”mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).

Karena ”Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit :
Artinya :

”Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

Perhatikanlah wahai orang yang berakal!. Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-.

Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.

Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala tempat !.

Ketahuilah ! Bahwa pemahaman di atas bukanklah hasil dari pikiran saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tetapi pemahaman Ulama-ulama kita diantaranya :

1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya :”Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.
2. Berkata Imam Al-Asy’ary setelah membawakan ayat di atas : ”Fir’aun telah mendustakan Musa tentang perkataannya : Sesungguhnya Allah di atas langit” (Al-Ibanah : 48).
3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya ”Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya ”Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : ”Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada diatas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya : ”Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : ”Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya :”Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : ”Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : ”Kalau sekiranya Musa mengatakan : ”Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : ”Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : ”Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).
7. Berkata Imam Al-Waasithi di kitabnya ”An-Nahihah fi Shifatir Rabbi Jalla wa ‘Alaa” (hal : 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab Al-Islamy) : ”Dan ini menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun berkata : ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta”.

Demikianlah penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di atas, selain masih banyak lagi yang kesimpulannya : ”Bahwa mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit di atas ‘Arsy-Nya, Ia istiwaa (bersemayam) yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, adalah ; sunnahnya Fir’aun”. Na’udzu billah !!.

Sampai disini pembahasan beberapa dalil dari kitab Allah -salain masih banyak lagi- yang cukup untuk diambil pelajaran bagi mereka yang ingin mempelajarinya. Firman Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Artinya :

”Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan !” (Al-Hasyr : 2).

Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi SAW banyak sekali. Dibawah ini akan disebutkan beberapa diantaranya :
Nabi kita SAW telah bersabda :
Artinya :

”Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya ”Silsilah Shahihah No. 925”.

”Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

”Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

”Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya ”.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

Keterangan :

”Dzat yang di atas langit yakni Allah ‘Azza wa Jalla (perhatikan empat hadits diatas)”.

”Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana (keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 dll).

Keterangan :

”Sabda Nabi SAW : ”Kemudian NAIK Malaikat-malaikat yang bermalam …dst” Menunjukan bahwa Pencipta kita Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas. Hal ini juga menunjukan betapa rusaknya pikiran dan fitrahnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Pencipta kita, tidak berada di atas tetapi di segala tempat ? Maha Suci Allah ! Dan Maha Tinggi Allah dari segala ucapan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka !.

”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41).

Sungguh hadits ini merupakan tamparan yang pedas di muka-muka kaum Ahlul Bid’ah yang selalu melarang kaum muslimin berisyarat dengan jarinya ke arah langit. Mereka berkata : Kami khawatir orang-orang akan mempunyai i’tiqad bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ! Padahal Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?.

Demikianlah kekhawatiran yang dimaksudkan syaithan ke dalam hati ketua-ketua mereka. Yang pada hakekatnya mereka ini telah membodohi Nabi SAW yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit.

Perhatikanlah perkataan mereka : ”Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?”

Perhatikanlah ! Adakah akal yang shahih dan fitrah yang bersih dapat menerima dan mengerti perkataan di atas !?.

Mereka mengatakan Allah tidak bertempat karena akan menyerupai dengan mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama mereka tetapkan bahwa Allah berada disegala tempat atau dimana-mana tempat !?.

Ya Subhanallah !
Artinya :

”Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riawayat Imam Bukhari Juz 2 hal : 191).

Perhatikan wahai orang yang berakal ! Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya ke langit mengucapkan : Ya Allah !.

Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. Kemudian perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala tempat, dibawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan !?

Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.
Artinya :

”Dari Aisyah, ia berkata : ”Nabi SAW mengangkat kepalanya ke langit. (Riwayat Imam Bukhari 7/122).

Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.

Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin kami turunkan satu persatu dalam risalah kecil ini, kecuali beberapa diantaranya.

1. Umar bin Khatab pernah mengatakan :
Artinya :

”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

2. Ibnu Mas’ud berkata :
Artinya :

”’Arsy itu diatas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”.

Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam.

Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).

Tentang ‘Arsy Allah di atas air ada firman Allah ‘Azza wa Jalla.

”Dan adalah ‘Arsy-Nya itu di atas air” (Hud : 7)

3. Anas bin Malik menerangkan :
Artinya :

”Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”.

Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :

”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta’ala yang menikahinya dari atas ‘Arsy-Nya.

Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57

”Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)”.

4. Imam Abu Hanifah berkata :
Artinya :

”Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir”.

Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan ”aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi”. Berkata Imam Abu Hanifah : ”Sesungguhnya dia telah ‘Kafir !”. Karena Allah telah berfirman : ”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa”. Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas ‘Arsy-Nya.

5. Imam Malik bin Anas telah berkata :
Artinya :

”Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya”.

6. Imam Asy-Syafi’iy telah berkata :
Artinya :

”Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya”

7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : ”Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-
Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat .?

Jawab Imam Ahmad :
Artinya :

”Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ”Apa perkataan Ahlul Jannah ?”.
Beliau menjawab :
Artinya :

”Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa”.

9. Imam Tirmidzi telah berkata :
Artinya :

”Telah berkata ahli ilmu : ”Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”.

(Baca : ”Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137,140,179,188,189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51,52,53,54 dan 57).

10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- :
Artinya :

”Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.

(Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah ”Ulumul Hadits” hal : 84).

11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :

”Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :” Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya) :”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).

Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : ”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaiamana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.

Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan ”tawasul”, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepaas diri dari qaum musyrikin tersebut.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’un !!.

Kelima

Kesimpulan

Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur’an dengan tegas dan terang menyatakan : ”Sesungguhnya Pencipta kita Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya”. Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.

Dan Maha Suci Allah dari ta’wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :

1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : ”Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2. Wajib menjawab : ”Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy”. Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas ‘Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagi mu’min atau mu’minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
3. Wajib mengi’tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya.
4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesunguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billah.
6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa bertanya :”Dimana Allah ?” akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na’udzu billah !
8. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia penyembah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada ”sesuatu yang tidak ada”.
10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur’an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma’ diantara mereka kecuali kaum ahlul bid’ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo’a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan ‘Ya … Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Tambahan

Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat :

Artinya :

”Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ”. (Al-An’am : 3)

Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :

”Innahu Fii Qulli Makaan”

”Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.

Maha Suci Allah dari perktaan kaum Jahmiyyah ini !

Adapun maksud ayat ini ialah :

1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang dilangit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.

Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya :

”Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)

Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang ”diam” Tidak tahu Allah ada di mana !.

Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (A-Zukhruf : 84) menerangkan : ”Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : ”Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata ”Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

Adapun orang yang ”diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : ”Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu ”diam” darinya dengan ucapan ”kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.

Dikirim ulang oleh Tami untuk Jilbab Online
Sumber : Jilbab.or.id

Palestina Tanah Kaum Muslimin (As-Sunnah edisi 07-08/X/1427H ) November 8, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Situs Salafy.
comments closed

Tanah Palestina adalah tanahnya kaum muslimin yang kini selalu menjadi pemberitaan di berbagai media karena kondisi masyarakatnya yaitu bangsa Yahudi dan Arab selalu bersitegang khususnya tentang siapa yang paling berhak mengklaim daerah tersebut. Padahal konflik yang ada ternyata bukan hanya mengenai masalah tanah, serta lingkungan pemukiman tapi masalah agama. Hal ini merupakan sesuatu yang nyata berdasarkan apa yang Allah sampaikan melalui Al Qur’an bahwa mereka orang-orang Yahudi tidak akan senang dengan kaum muslimin. Mengenai klaim dari orang Yahudi tentang daerah tersebut, juga sangat tidak masuk diakal karena ternyata hanya orang-orang beriman yang berhak dan mereka dinamakan bani Israil tetapi sebagian besar dari mereka banyak yang menjadi kufur dan mengingkari perintah Allah. Dan mereka itulah yang dinamakan dengan Yahudi. Atas perbuatan mereka itu Allah melarang mereka masuk kedaerah itu dan bahkan membuat mereka menjadi bangsa yang kebingungan sehingga akhirnya mereka terpecah belah dan menyebar ke berbagai daerah. Bahkan sebelum itu mereka pernah merasakan pembantaian atas kaum mereka dari bangsa Romawi. sehingga tidaklah pantas mereka mengklaim wilayah itu apalagi sekarang mereka justru semakin jauh menyimpang dari apa yang diseru oleh para nabinya untuk menyembah hanya Allah semata.

Majalah As-Sunnah edisi kali ini juga membahas tentang tafsir Al Qur’an surat Al israa ayat pertama tentang keberkahan yang Allah berikan pada bumi Syam/Palestina. kemudian Hadits yang menjelaskan tentang pohon Gharqad, pohonnya orang Yahudi, dilanjutkan tentang Puasa Syawwal. Mabhats tentang keutamaan Masjidil Aqsha, penaklukan Palestina, Yahudi bukan Israil, Palestina, tanah kaum Muslimin, Permusuhan Yahudi terhadap Islam. lalu manhaj akan membahas tentang introspeksi dirimu dan hargailah mereka dan jika Hajr terjadi?. tentang Aqidah yaitu mengapa tidak semakin mendekat kepada Allah.dan lain-lain.”Baituna” juga menyediakan ulasan-ulasan yang bermanfaat. Simak artikel-artikel menarik lain, berikut daftar artikelnya yang disuguhkan.

Soal-Jawab

1. Akhirat kekalt
2. zJama’ Shalat ‘Isya dan Maghrib
3. Suami Itri, apakah mahram?
4. Ancaman cerai

Tafsir Surat Al Isrra ayat yang pertama tentang keberkahan yang Allah berikan pada bumi Syam

Hadits
Gharqad, pohon Yahudi

Mabhats

1. Keutamaan Masjidil Aqsha
2. Penaklukan Palestina
3. Manhaj ; Intorspeksi Dirimu dan hargailah Mereka

Aqidah Mengapa Tidak Semakin Mendekat

Fiqih Tuntunan Zakat Fitrah

Fatawa Tertinggal Shalat ‘Id

Firaq Wihdatul Wujud

Sirah Yang Pertama Masuk Islam

Tazkiyatun Nufus Meraih Cinta Allah Dengan Al Qur’an

Khutbah Jum’at Berpegang Dengan Syari’at Kunci Kemenangan

Khutbah Idul Fithri Hindari Perayaan ‘Id Dari Kemaksiatan

B A I T U N A

Baitii Jannatii Hamil Di Luar Nikah, Masalah Nasab Anak Zina

UswahBerbahagia Bersama nabi, pada hari ‘Idul Fitri
Hikmah Haram Berbuat Zina, Wajib Menjaga kemaluan

Syaksyiyyah ‘Abdullah bin hudzafah As Sahmi

Konsultasi keluarga Istri Yang Durhaka Kepada Suami

Celah Kesehatan Bisakah Penderita Sakit Maag berpuasa

Konsultasi Kesehatan
Ibu Hamil Berpuasa Sunnah
Efek Kontrasepsi Suntik
Ibu hamil minum Es

Dapatkan segera di agen-agen terdekat di kota anda!

Sumber : Villa Baitullah

http://vbaitullah.or.id/content/view/809/48/

Pernikahan Dalam Syari’at Islam (Bag. 2) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
add a comment

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Kriteria Pernikahan Islami

Dari hadits ‘Aisyah diatas, kita dapat simpulkan bahwa pernikahan yang dibenarkan oleh islam ialah pernikahan yang memiliki beberapa kriteria berikut:

1. Wali Yang Menyetujui dan Merestui Pernikahan Tersebut

Islam benar-benar menjaga dan menghormati hak-hak manusia, yaitu dengan mengajarkan syari’at yang dapat menjamin keutuhan hak setiap orang, termasuk hak kaum wanita/istri.
Kaum wanita pada umumnya senantiasa diselimuti oleh berbagai kelemahan, dimulai dari kelemahan fisik, pengalaman, keberanian, kesabaran, dan hingga perasaan. Islam dalam syari’at pernikahannya benar-benar memperhatikan fenomena ini. Oleh karenanya Islam mensyaratkan agar pernikahannya dilangsungkan oleh ayah/walinya, guna melindungi mereka agar tidak menjadi korban orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dengan memanfaatkan berbagai kelemahan tersebut.

Sebagaimana Islam juga berupaya agar kehormatannya dan kepribadiannya tetap terjaga utuh dan tidak ternodai, sebab pada umumnya wanita bersifat pemalu, sehingga mereka sering kali tidak dapat mengutarakan keinginannya dengan baik, terutama yang berhubungan dengan pernikahan. Oleh karena itu sering kali seorang wanita bila ditanya tentang kesiapannya untuk menikah atau menerima lamaran seseorang ia tertunduk dan terdiam malu bahkan menangis. Sampai-sampai Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menjadikan terdiamnya seorang gadis ketika ditanya tentang sikapnya terhadap lamaran seorang pria sebagai pertanda persetujuannya:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الجارية ينكحها أهلها، أتستأمر أم لا؟ فقال لها رسول الله : (نعم تستأمر) فقالت عائشة: فقلت له: فإنها تستحي. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فذلك إذنها إذا هي سكتت) متفق عليه

“Dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, ia menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam tentang anak gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah ia dimintai pendapatnya atau tidak? Maka Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ya, ia dimintai pendapatnya”, maka ‘Aisyah berkata kepada beliau: Sesungguhnya ia malu. Maka Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: Maka itulah persetujuannya, bila ia diam.” (Muttafaqun ‘alaih)

Oleh karena itu semua, islam mengharuskan agar pernikahan dilakukan oleh wali, guna mencapai berbagai tujuan di atas, dan demi membedakan antara pernikahan yang syar’i atau sah dari perzinaan:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : (لا تزوج المرأة المرأة ولا تزوج المرأة نفسها فإن الزانية هي التى تزوج نفسها) رواه ابن ماجه والدارقطني وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu dari Nabi shollallahu’alaihiwasallam: “Seorang wanita tidaklah dapat menikahkan wanita lain, dan seorang wanita tidaklah menikahkan dirinya sendiri, sebab pelacurlah yang menikahkan dirinya sendiri.” (Riwayat Ibnu majah, Ad Daraquthny dan dishahihkan oleh Al Albany)

Dan dalam hadits lain Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لا نكاح إلا بولي. رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجة وصححه الألباني

“Tidaklah sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya seorang wali.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albany)

Bahkan seandainya seorang wali telah dihadirkan ketika proses pernikahan, akan tetapi ia tidak menyetujui pernikahan tersebut, maka pernikahan tersebut tidak sah. Dengan demikian keberadaan wali bukan hanya sekedar suatu formalitas atau sekedar pelengkap semata yang tidak memiliki peran. Akan tetapi seorang wali benar-benar memiliki peran utama dalam proses pernikahan. Oleh karena itu Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فنكاحها باطل، فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بما استحل من فرجها، وإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي لها. رواه الخمسة إلا النسائي وصححه الألباني

“Wanita yang menikah tanpa izin dari walinya, maka pernikahannya bathil (tidak sah), maka pernikahannya bathil (tidak sah), maka pernikahannya bathil (tidak sah). Dan bila lelaki itu telah menggaulinya, maka ia berhak mendapat mahar sebagai ganti atas hubungan yang telah dilakukan oleh lelaki itu dengan dirinya. Dan bila para wali berselisih, maka penguasa adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albany)

Hukum ini bukan hanya berlaku pada wanita yang belum pernah menikah atau yang disebut dengan perawan, akan tetapi berlaku juga pada wanita yang pernah menikah atau yang disebut dengan janda. Sebagai salah satu dalilnya ialah ayat berikut:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْاْ بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ

“Apabila kamu mentalak istri-istrimu lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan mantan suaminya bila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang baik (ma’ruf).” (Surat Al Baqarah: 232)

Ayat ini diturunkan berkenaan kisah saudara wanita sahabat Ma’qil bin Yasar rodiallahu’anhu, sebagaimanya yang ia kisahkan sendiri:

زوجت أختا لي من رجل، فطلقها حتى إذا انقضت عدتها، جاء يخطبها، فقلت له: زوجتك وفرشتك وأكرمتك، فطلقتها ثم جئت تخطبها؟! لا والله لا تعود إليك أبدا. وكان رجلا لا بأس به، وكانت المرأة تريد أن ترجع إليه، فأنزل الله هذه الآية (فلا تعضلوهن) فقلت: الآن أفعل يا رسول الله، قال: فزوجها إياه. رواه البخاري.

“Aku pernah menikahkan saudariku dengan seorang pria, kemudian pada suatu saat ia menceraikannya, hingga ketika masa iddahnya telah berlalu, ia datang untuk melamarnya kembali, maka sayapun berkata kepadanya: Aku pernah menikahkanmu (dengannya), aku pernah pasrahkan dia kepadamu, dan aku pernah memuliakanmu dengannya, kemudian engkau ceria dia, dan sekarang engkau datang melamarnya kembali?! Tidak, sungguh demi Allah, selama-lamanya ia tidak akan pernah menjadi istrimu lagi. Padahal dia adalah pria yang baik, dan saudariku juga ingin untuk kembali membina pernikahan dengannya, maka Allah menurunkan firman-Nya berikut ini: maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka (Mendengar ayat ini) aku-pun berkata: Sekarang juga saya akan aku laksanakan wahai Rasulullah. Perawi kisah ini menuturkan: Kemudian ia-pun menikahkan saudarinya kepada mantan suaminya tersebut. (Riwayat Al Bukhari)

Pada kisah ini, Allah Ta’ala melarang kaum lelaki yang menjadi wali, dari menghalangi wanita yang berada dibawah perwaliannya untuk dinikahi oleh pria yang pernah menikahinya. Seandainya wanita yang telah menjanda dibolehkan untuk menikah tanpa wali, maka tidak perlu adanya larangan semacam ini, sebab pada kisah yang menjadi penyebab diturunkan ayat ini, wanita tersebut berhasrat untuk menerima kembali lamaran mantan suaminya. Sehingga bila ia dibenarkan untuk menikah tanpa wali, maka dengan mudah baginya untuk langsung menikah dengan mantan suaminya. Akan tetapi karena pernikahan tidak dibenarkan tanpa adanya wali, maka Allah menurunkan larangan terhadap perbuatan wali tersebut, yaitu menghalangi pernikahan mereka berdua.

2. Pengantin Pria Membayar Mahar/Mas Kawin Kepada Pengantin Wanita

Pada hadits ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya- dinyatakan bahwa diantara kriteria pernikahan yang dibenarkan dalam islam ialah dengan ditunaikannya mas kawin/ mahar. Mas kawin merupakan pertanda bagi penghargaan kepada wanita yang dinikahi dan bukan sebagai uang sewa atau pembelian. Oleh karena itu mas kawin dalam Al Qur’an disebutkan sebagai nihlah (pemberian yang diberikan dengan penuh ketulusan).

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

“Dan berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh ketulusan.” (An Nisa’: 4)

Dan dalam hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من تزوج امرأة على صداق وهو ينوي أن لا يؤديه إليها فهو زان، ومن ادان دينا وهو ينوي أن لا يؤديه إلى صاحبه فهو سارق) رواه عبد الرزاق والبزار والبيهقي وصححه الألباني.

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Siapa saja yang menikahi seorang wanita dengan suatu mas kawin/ mahar, sedangkania berniat untuk tidak menunaikan kepadanya mas kawin tersebut, maka ia adalah pezina, dan barang siapa yang menghutang suatu piutang, sedangkan ia berniat untuk tidak membayar kepada pemiliknya, maka ia adalah pencuri.” (Riwayat Abdurrazzaq, Al Bazzar, Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Al Albany)

Dalam kacamata Islam, pernikahan adalah ikatan/akad penghormatan dan penghargaan dari kedua belah pihak, dan bukan akad perniagaan. Oleh karena itu mas kawin bukanlah uang sewa atau sebagai uang pembelian, melainkan sebagai tanda penghargaan dari suami kepada istri.

Karena Mas kawin adalah sebagai simbul penghargaan, dan penghormatan, maka dalam syari’at Islam, mas kawin yang paling baik adalah yang paling mudah dan murah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam:

خير الصداق أيسره . رواه الحاكم والبيهقي

“Sebaik-baik mas kawin/mahar ialah yang paling mudah/murah.” (Riwayat Al Hakim dan Al Baihaqy)

Inilah pernikahan dalam Islam, suatu ikatan yang didasari oleh penghargaan, penghormatan, dan kepercayan dari kedua belah pihak. Sehingga tidak mengherankan bila setelah terjalin tali pernikahan antara dua insan, syari’at Islam mewajibkan kepada keduanya untuk menjalankan tugasnya dengan tanpa pamprih, sehingga terjalinlah hubungan yang romantis. Istri berkewajiban untuk mentaati suaminya dan suami berkewajiban untuk menafkahi, melindungi dan mendidik istri.

Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda tentang kewajiban istri kepada suaminya

لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها . رواه الترمذي وصححه الألباني

“Seandainya aku dibolehkan untuk memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku akan perintahkan kaum istri untuk bersujud kepada suaminya.” (Riwayat At Tirmizy dan dishahihkan oleh Al Albany)

Dan tentang kewajiban suami terhadap istrinya, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

كفى بالمرء إثما أن يحبس عمن يملك قوته . رواه مسلم

“Cukuplah bagi seseorang sebagai dosa besar, bila ia menahan nafkah orang yang di bawah kekuasaannya.” (Riwayat Muslim)

Karena asas hubungan yang didasari oleh keikhlasan dan penghargaan semacam inilah, Allah menjadikan tugas yang dilakukan oleh masing-masing dari suami istri sebagai bagian dari amalan ibadah, sampai-sampai Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

وفي بضع أحدكم، صدقة. قالوا يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال، كان له أجر . رواه مسلم

“Dan pada hubungan intim kalian adalah amalan shodaqoh. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya, kok ia mendapatkan pahala? Beliau menjawab: Apa pendapatmu bila ia melampiaskannya dengan cara-cara yang haram, bukankah ia akan berdosa karenanya? Demikian juga bila ia melampiaskannya dengan cara-cara yang halal.” (Riwayat Imam Muslim)

Demikian juga halnya dengan setiap kewajiban yang dijalankna oleh seorang istri kepada suaminya, bahkan ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu sebab dimudahkannya ia untuk masuk surga:

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحصنت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت . رواه أحمد والطبراني وصححه الألباني

“Bila seorang wanita menjalankan shalat lima waktu, puasa bulan ramadhan, menjaga kemaluannya (tidak berzina) dan taat kepada suaminya, kelak akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga dari pintu-pintu surga yang engkau suka.’” (Riwayat Ahmad, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany)

Demikianlah hubungan yang romantis, dan tulus, sehingga dengan hubungan yang indah ini, akan tercapai keluarga yang damai sejah tera. Dan kisah berikut adalah salah satu gambaran nyata dari hubungan suami istri yang romantis:

عن عكرمة عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: إني لأحب أن أتزين للمرأة كما أحب أن تتزين لي، لأن الله عز وجل يقول: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف . وما أحب أن أستنطف جميع حق لي عليها لأن الله عز وجل يقول وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ. رواه ابن أبي شيبة والبيهقي

“Dari Ikrimah ia mengisahkan dari sahabat Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya beliau berkata: ‘Sungguh aku suka berdandan di hadapan istriku, sebagaimana aku suka bila ia berdandan di hadapanku. Yang demikian itu karena Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan para wanita/istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf (baik).” Dan saya tidak ingin menuntut seluruh hak-ku atasnya, karena Allah Azza wa Jalla berfirman: “Akan tetapi para suami, mempunyai suatu tingkat kelebihan daripada istrinya.’” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqy)

3. Pernikahan Diumumkan Di Masyarakat

Diantara kriteria pernikahan yang selaras dengan syari’at islam ialah: pernikahan dilangsungkan dihadapan para saksi atau dengan diumumkan kepada masyarakat melalui pesta pernikahan. Tuntunan ini guna menjaga kehormatan tali pernikahan yang telah terjalin antara pria dan wanita. Sebab bila masyarakat telah mengetahui bahwa seorang wanita telah dinikahi oleh seorang pria, maka tidak akan ada lagi pria lain yang melamarnya, atau ceroboh menggodanya dst. Dan bila dikemudian hari wanita tersebut hamil dan melahirkan anak, tidak ada orang yang meragukan status kehamilan dan anaknya tersebut. Oleh karena itu Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam benar-benar menekankan akan pentingnya pesta pernikahan, sampai-sampai beliau bersabda:

فصل ما بين الحلال والحرام الصوت بالدف . رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجة والحاكم

“Perbedaan antara perbuatan halal (pernikahan) dari perbuatan haram (perzinaan) ialah dengan ditabuhnya rebana.” (Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Dan ketika ada salah seorang sahabat Nabi yang menikah, yaitu sahabat Abdurrahman bin Auf rodiallahu’anhu , beliau memerintahkannya untuk membuat pesta walimah, sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat berikut:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم رأي على عبد الرحمن بن عوف أثر صفرة، فقال: ما هذا؟ قال: يا رسول الله إني تزوجت امرأة على وزن نواة من ذهب. قال: فبارك الله لك، أولم ولو بشاة . متفق عليه

“Dari sahabat Anas bin Malik rodiallahu’anhu, bahwasannya pada suatu hari Nabi shollallahu’alaihiwasallam menyaksikan pada diri Abdurrahman bin ‘Auf terdapat bekas minyak Za’faran, maka Beliau bertanya: Apakah ini? Sahabat Abdurrahman-pun menjawab: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa emas seberat biji kurma. Beliau bersabda: Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu. Buatlah pesta walimah walau hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqun ‘alaih)

4. Pasangan Yang Shaleh dan Shalehah

Pernikahan adalah suatu akad yang menyatukan antara dua insan dengan ikatan yang suci. Oleh karena itu Islam memerintahkan umatnya untuk selektif dalam menentukan pilihan, agar pernikahan yang mereka jalin benar-benar menjadi nikmat dan keberkahan dalam hidup. Dan agar pernikahan yang mereka jalin benar-benar menjadi salah satu tanda akan ke-Agungan dan ke-Esaan Allah, sebagaimana yang Allah firmankan:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Rum: 21)

Oleh karena itu Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam ketika menjelaskan kepada umatnya tentang berbagai alasan yang dijadikan masyarakat sebagai standar dalam menentukan pasangan hidup/istri, beliau menganjurkan agar faktor iman dan ketakwaan sebagai standar utama dalam menentukan pilihan. Beliau shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك . متفق عليه

“Wanita itu (biasanya) dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka hendaknya engkau memilih wanita yang beragama (bertakwa), niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara kriteria wanita yang shaleh ialah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita), dankarena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh ialah yang ta’at (kepada Allah Ta’ala dan kepada suaminya) lagi memelihara diri ketika suaminya sedang tidak ada, berikat pemeliharaan Allah terhadap mereka.” (An Nisa’: 34)

Pada suatu hadits, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam lebih merinci tentang kriteria wanita shaleh, yang layak untuk dijadikan pasangan hidup:

خير النساء التي إذا نظرت إليها سرتك، وإذا أمرتها أطاعتك وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالك قال: وتلا هذه الآية الرجال قوامون على النساء … الى آخر الآية. رواه ابن جرير وأبو داود الطيالسي والحاكم

“Sebaik-baik wanita ialah wanita yang bila engkau memandang kepadanya, ia akan membuatmu senang, dan bila engkau memerintahnya niscaya ia mentaatimu, dan bila engkau meninggalkannya, ia menjaga kehormatanmu dalam hal yang berikaitan dengan dirinya dan hartamu. Dan kemudian Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam membaca ayat berikut, yang artinya: (Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…) hingga akhir ayat.” (Riwayat Ibnu jarir, Abu Dawud At Thoyalisy dan Al Hakim)

Demikian juga halnya dengan kriteria pasangan pria, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam mengajarkan agar standar pilihannya ialah kesholehan dan akhlaq yang mulia:

إذا خطب إليكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض . رواه الترمذي وسعيد بن منصور والطبراني والبيهقي وحسنه الألباني

“Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia, bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merajalela.” (Riwayat At Tirmizy, Sa’id bin Mansur, At Thabrany, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albany)

Sebagian ulama’ menjelaskan maksud dari fitnah dan kerusakan yang disebutkan dalam hadits dengan berkata: “Yang demikian itu karena bila kalian tidak akan menikahkan wanita-wanita kalian melainkan dengan orang yang kaya, berkedudukan, maka akan menyebabkan kebanyakan wanita-wanita kalian tidak bersuami dan kebanyakan lelaki kalian tidak beristri, dan kemudian merajalelalah perzinaan. Dan bisa saja para wali merasa dipermalukan, sehingga timbullah fitnah (peperangan) dan kekacauan. Bila demikian, maka kesinambungan generasi penerus akan terancam, berkurang jumlah orang shaleh, dan juga orang-orang yang menjaga kehormatannya.” (Tuhfatul Ahwazy, oleh Al Mubarakfuri 4/173)

Bila islam mengajarkan agar senantiasa memilih pasangan hidup yang sholeh dan shalihah, maka sebaliknya Islam juga memperingatkan umatnya agar tidak memilih pasangan hidup yang tidak baik. Hal ini karena pilihan adalah standar jati diri seseorang, Allah Ta’ala berfirman:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik( pula).” (An Nur: 26)

Sebagian ulama’ ahli tafsir menafsirkan: ayat ini bahwa ada kaitannya dengan ayat ke-3 dari surat yang sama, yaitu firman Allah Ta’ala:

الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Lelaki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh lelaki yang berzina atau lelaki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (An Nur: 3)

Sehingga penafsiran ayat ini menunjukkan bahwa lelaki yang tidak baik adalah pasangannya wanita yang tidak baik pula, dan sebaliknya wanita yang tidak baik adalah pasangannya orang yang tidak baik pula. Dan haram hukumnya bagi lelaki baik atau wanita baik untuk menikahi wanita atau lelaki yang tidak baik. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thobary 18/108, Tafsir Al Qurthuby 12/211, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 15/322, dan Tafsir Ibnu Katsir 3/278)

Sebagian ulama’ menjabarkan penafsiran ini dengan lebih jelas lagi: Barang siapa yang menikahi wanita pezina yang belum bertaubat, maka ia telah meridhai perbuatan zina, dan orang yang meridhai perbuatan zina seakan ia telah berzina. Dan bila seorang lelaki rela bila istrinya berzina dengan lelaki lain, maka akan lebih ringan baginya untuk berbuat zina. Bila ia tidak cemburu bila mengetahui istrinya berzina, maka akankah ada rasa sungkan di hatinya untuk berbuat serupa?! Dan wanita yang rela bila suaminya adalah pezina yang belum bertaubat, maka berarti ia juga rela dengan perbuatan tersebut, dan barang siapa yang rela dengan perbuatan zina, maka ia seakan-akan telah berzina. Dan bila seorang wanita rela bila suaminya merasa tidak puas dengan dirinya, maka ini pertanda bahwa iapun melakukan hal yang sama. Dan ini merupakan sunnatullah di alam semesta ini: balasan suatu amalan adalah amalan serupa.

عفوا تعف نساؤكم وأبناؤكم وبروا أباءكم يبركم أبناؤكم

Jagalah dirimu niscaya istri dan anakmu mu akan menjaga dirinya dan berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu.” (Majmu’ fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 15/315-323)

Dan dalam pepatah arab dinyatakan:

الزنا دين قضاؤه في أهلك

“Perbuatan zina adalah suatu piutang, dan tebusannya ada pada keluargamu.”

Dan pada hadits berikut terdapat suatu isyarat yang menguatkan keterangan ulama’ di atas:

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : إن فتى شابا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ! ائذن لي بالزنى. فأقبل القوم عليه فزجروه وقالوا مه مه ! فقال : ادنه. فدنا منه قريبا. قال: فجلس. قال: أتحبه لأمك ؟ قال : لا والله، جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لأمهاتهم . قال: أفتحبه لابنتك ؟ قال : لا والله يا رسول الله ! جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لبناتهم . قال أتحبه لأختك ؟ قال: لا والله جعلني الله فداك. قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم . قال أتحبه لعمتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم . قال أتحبه لخالتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم . قال: فوضع يده عليه وقال : اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Umamah rodiallahu’anhu, ia mengisahkan: “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shollallahu’alaihiwasallam lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina’. Maka spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: ‘Apa-apaan ini!’ Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: ‘Mendekatlah’, maka pemuda itupun mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kemudian besabda kepadanya: ‘Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?’ Pemuda itu menjawab: ‘Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu’. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: ‘Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka’. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kembali bertanya: ‘Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?’ Ia menjawab: ‘Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu’, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: ‘Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka’. Kemudian beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?’ Ia menjawab: ‘Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu’. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: ‘Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka’. Rasulullah kembali bertanya: ‘Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?’ Ia menjawab: ‘Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu’. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: ‘Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka’. Rasulullah kembali bertanya: ‘Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?’ Ia menjawab: ‘Tidak, sungguh demi Allah’. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: ‘Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka’. Kemudian Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, lalu berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.’ Maka semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong).” (Riwayat Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany)

Bila Islam melarang umatnya untuk menikahi orang yang tidak baik akhlaqnya, walaupun ia adalah seorang muslim atau muslimah, maka sudah barang tentu Islam melarang umatnya untuk menikahi orang-orang musyrik.

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah engkau menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menawan hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang beriman lebih baik dari lelaki musyrik, walaupun ia menawan hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga, dan ampunan-Nya dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al Baqarah: 221)

-bersambung pada pembahasan ‘Tujuan Pernikahan dalam Islam”-

Pernikahan Dalam Syari’at Islam (bag. 1) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
add a comment

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله.
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Pendahuluan

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amiin.

Maha Suci Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Dan Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua makhluq-Nya dengan al haq dan penuh dengan berbagai hikmah dan kebaikan bagi seluruh umat.

خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Allah menciptakan langit dan bumi dengan al haq (penuh hikmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al ‘Ankabut: 44)

Pada ayat lain Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru, dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup( bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fusshilat: 53)

Segala yang ada di dunia ini termasuk diri kita dan segala yang ada pada diri kita adalah bagian dari tanda-tanda ke-Agungan dan ke-Esaan Allah, dan bukti bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan, mengatur dan yang layak untuk disembah, dipuji, diagungkan dan ditaati.
Dan diantara tanda-tanda ke-Agungan Allah yang ada pada diri kita ialah diciptakan-Nya bagi manusia pasangan dari makhluk yang sama dengan mereka. Pria sebagai pasangan wanita dan wanita sebagai pasangan pria. Dan pada masing-masing dari mereka terdapat berbagai hal yang merupakan penyempurna bagi pasangannya. Dengan demikian terciptalah diantara mereka hubungan yang harmonis, kedamaian, saling mencintai, menyayangi, saling berkorban untuk pasangannya dan saling melindungi.

Allah Ta’ala befirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Rum: 21)

Ibnu Tafsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan berkata: “Seandainya Allah Ta’ala menjadikan seluruh manusia dalam jenis pria, kemudian Ia menjadikan pasangan mereka dari makhluk jenis lain, baik dari jenis jin atau makhluq hidup lain, niscaya tidak akan pernah terwujud keharmonisan suami istri diantara mereka. Dan bila pasangan mereka berasal dari makhluk jenis lain, niscaya akan terjadi kerenggangan, interaksi yang tidak harmonis. Ditambah lagi, diantara bukti kesempurnaan rahmat Allah Ta’ala kepada umat manusia setelah dijadikannya pasangan mereka dari jenis mereka sendiri ialah dijadikannya rasa kasih sayang, saling merahmati diantara mereka. Karena biasanya seorang pria menikahi seorang wanita karena ia mencintainya, atau karena rasa sayang yang ada pada diri wanita dikarenakan ia telah mendapatkan keturunan dari suaminya tersebut. Atau karena wanita itu membutuhkan kepada perlindungan suaminya, atau karena keharmonisan hubungan antara keduanya atau karena faktor lain yang serupa dengannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (ke-Esaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Tafsir Ibnu Katsir 3/429]

Maha benar Allah Ta’ala, seorang suami dan istrinya benar-benar seperti yang digambarkan dalam ayat ini, terjalin antara mereka hubungan yang harmonis, kesetiaan, pengorbanan, serta kedamaian dan ketentraman yang dapat dirasakan oleh masing-masing mereka. Ini semua merupakan karunia besar dari Allah yang tidak mungkin dapat diperoleh melalui hubungan diluar pernikahan. Bahkan hubungan apapun yang dijalin antara pria dan wanita diluar pernikahan, mereka tidak akan pernah mampu mendapatkan hubungan yang serasi, pengorbanan, dan kesetiaan seperti yang terjadi dalam pernikahan. Hal ini disebabkan masing-masing dari mereka sadar bahwa suatu saat pasangannya akan berganti dengan orang lain, atau hubungan mereka hanya berlaku dalam waktu yang terbatas. Bahkan biasanya masing-masing dari mereka dengan terus terang mengatakan bahwa hubungan mereka sebatas saling menjajagi. Oleh karena itu Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

عن بن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لم نر للمتحابين مثل النكاح) رواه عبد الرزاق وابن ماجة والطبراني والحاكم والبيهقي، وصححه الألباني

“Dari sahabat Ibnu ‘Abbas rodiallahu’anhu berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kami tidak pernah mendapatkan suatu ikatakan bagi orang yangt saling mencintai yang serupa dengan ikatan pernikahan.” (Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Majah, At Thabrany, Al Hakim, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany)

Pernikahan Antara Tradisi Jahiliyyah & Syari’at Islam

Hubungan antara pria dan wanita telah dikenal semenjak dahulu kala, bahkan telah dijalin oleh pria dan wanita pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

“Dia-lah yang telah menciptakanmu dari jiwa yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa senang kepadanya .” (Al A’raf 189) [Ayat ini merupakan salah satu dalil yang mendustakan teori darwin yang menyatakan bahwa asal usul manusia adalah kera. Dan umat manusia dalam sejarahnya melalui masa yang disebut dengan masa pra sejarah, atau masa transisi dari kera menjadi manusia]

Pernikahan semenjak Nabi Adam ‘alaihissalam terus menerus dijalankan oleh umat manusia untuk menjalin hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi bersamaan dengan berjalannya waktu dan terjadinya berbagai kejadian yang dialami oleh manusia, -yang sudah barang tentu tidak lepas dari peran bisikan dan godaan setan- terjadilah berbagai perubahan dalam proses pernikahan, sampai-sampai ketika zaman diutusnya Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, umat manusia kala itu telah mengenal berbagai pola pernikahan, sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut:

عن عروة بن الزبير أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أخبرته: (أن النكاح في الجاهلية كان على أربعة أنحاء، فنكاح منها نكاح الناس اليوم: يخطب الرجل إلى الرجل وليته أو ابنته فيصدقها ثم ينكحها، ونكاح آخر: كان الرجل يقول لامرأته إذا طهرت من طمثها: أرسلي إلى فلان فاستبضعي منه، ويعتزلها زوجها ولا يمسها أبدا حتى يتبين حملها من ذلك الرجل الذي تستبضع منه، فإذا تبين حملها أصابها زوجها إذا أحب، وإنما يفعل ذلك رغبة في نجابة الولد، فكان هذا النكاح نكاح الاستبضاع. ونكاح آخر: يجتمع الرهط ما دون العشرة، فيدخلون على المرأة كلهم يصيبها، فإذا حملت ووضعت ومر عليها ليال بعد أن تضع حملها، أرسلت إليهم -فلم يستطع رجل منهم أن يمتنع- حتى يجتمعوا عندها، تقول لهم: قد عرفتم الذي كان من أمركم، وقد ولدت فهو ابنك يا فلان، -تسمي من أحبت باسمه- فيلحق به ولدها، لا يستطيع أن يمتنع منه الرجل. ونكاح الرابع: يجتمع الناس الكثير فيدخلون على المرأة لا تمتنع ممن جاءها وهن البغايا، كن ينصبن على أبوابهن رايات تكون علما، فمن أرادهن دخل عليهن فإذا حملت إحداهن ووضعت حملها جمعوا لها، ودعوا لهم القافة ثم ألحقوا ولدها، فالتاط به ودعي ابنه، لا يمتنع من ذلك. فلما بعث محمد صلى الله عليه وسلم بالحق هدم نكاح الجاهلية كله إلا نكاح الناس اليوم. رواه البخاري

“Dari Urwah bin Az Zubair ia menuturkan, bahwasannya ‘Aisyah istri Nabi shollallahu’alaihiwasallam pernah mengisahkan kepadanya: “Sesungguhnya pernikahan pada zaman jahiliyyah ada empat macam: Diantara pernikahan-perniakahan itu ialah pernikahan yang ada di masyarakat sekarang ini, yaitu seorang pria datang melamar kepada pria lain wanita yang dibawah perwaliannya atau anak gadisnya, kemudian ia membayar maharnya lalu iapun menikahinya. Pernikah kedua: Dahulu seorang pria berkata kepada istrinya setelah ia suci dari haidhnya: temuilah si fulan, dan mintalah keturunan darinya, kemudian suaminya tersebut menahan diri serta tidak menggauli istrinya tersebut hingga benar-benar telah terbukti bahwa istrinya telah hamil dari hubungan dengan pria lain yang telah dimintai keturunan tersbeut. Bila benar-benar telah terbukti wanita itu hamil, suaminya boleh menggaulinya bila ia mau. Mereka melakukan pernikahan macam ini karena menginginkan keturunan yang bagus, dan inilah pernikahan istibdha’ (minta keturunan). Dan pernikahan ketiga: Yaitu dengan berkumpul sejumlah pria kurang dari sepuluh, kemudian mereka bersama-sama mendatangi seorang wanita, lalu mereka semuanya menggaulinya (secara bergiliran). Dan bila wanita itu telah hamil dan melahirkan anaknya, dan telah berlalu dari proses persalinannya beberapa hari, wanita itu memanggil seluruh pria yang telah menggaulinya –tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat menolak untuk hadir- hingga ketika mereka telah berkumpul di rumahnya, wanita itu berkata kepada mereka: Kalian semua telah mengetahui apa yang pernah kalian lakukan, dan aku telah melahirkan, dan anak itu adalah ankmu wahai fulan –ia menyebut nama pria yang ia sukai – maka anak itu dinasabkan kepadanya, dan pria itupun tidak dapat menolak. Dan pernikahan keempat: Yaitu dengan berkumpul banyak pria, kemudian (dengan bergantian) mereka mengauli seorang wanita yang tidak akan menolak siapapun yang datang kepadanya, dan mereka itu adalah para pelacur. Dahulu mereka memancangkan bendera dipintu mereka sebagai pertanda, dan barang siapa yang menghendaki, maka ia dapat menggaulinya dengan bebas. Dan bila wanita itu telah hamil dan telah melahirkan anaknya, pria-pria yang pernah menggaulinya tersebut dikumpulkan, lalu didatangkan tukang ramal, kemudian tukang ramal tersebut menasabkan anaknya kepada pria yang ia pandang serupa, dan sejak itu anak wanita tersebut melekat dengannya dan dipanggil sebagai anaknya, dan iapun tidak merasa enggan dari hal itu. Dan ketika Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam diutus dengan membawa kebenaran, beliau menghancurkan (menghapuskan) seluruh pernikahan orang-orang jahiliyyah selain pernikahan yang ada pada masyarakat sekarang ini.” (Riwayat Al Bukhari)

Demikianlah pernikahan yang ada pada zaman jahiliyyah, tiga macam pernikahan yang ada kala itu dilangsungkan tanpa ada perwalian, atau mahar, atau saksi, bahkan seorang wanita digauli oleh banyak orang. Dan bahkan seorang wanita yang telah bersuami dengan terus terang dan bahkan atas perintah suaminya berhubungan dengan pria lain.

Syari’at pernikahan dalam Islam, wanita dihormati dan dimuliakan, sehingga ia tidaklah dapat dinikahi kecuali melalui proses yang terhormat, yaitu dengan melalui proses lamaran kepada walinya, dan kemudian melalui proses pernikahan yang resmi dan terhormat pula. Karena dalam pernikahan yang dibenarkan oleh islam, pernikahan dilangsungkan dengan cara terbuka dihadapan para saksi, dan dilangsungkan dengan cara terhormat yaitu dengan diadakan acara pesta walimah. Sehingga dengan berbagai proses ini, masing-masing dari pria dan wanita yang menikah terjaga kehormatannya, terjamin hak-haknya, dan anak keturunan yang dilahirkan jelas status nasabnya.

Beda halnya dengan pernikahan yang tidak selaras dengan syari’at, misalnya pernikahan tanpa persetujuan walinya, atau menikahi wanita yang bersuami. Biasanya pernikahan itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, dan dengan cara-cara yang hina, oleh karena itu pelakunya tidak berani berterus terang menyampaikan pernikahan ini kepada wali atau orang tua dari wanita yang ia nikahi. Bahkan masyarakatpun menjulukinya dengan sebutan yang hina pula, yaitu “kawin lari”. [Julukan ini adalah julukan yang amat menghinakan, sebab makhluq Allah yang dapat kawin dengan sambil berlari ialah makhluq selain manusia, dan diataranya ialah anjing]

-bersambung pada pembahasan “Kriteria Pernikahan Islami” insya Allah

Sumber: muslim or id

Bagaimana ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Bag. 4) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
add a comment

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh:
Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust Aris Munandar

Adab ke-8: Tidak Mudah Putus Asa

Termasuk adab yang penting bagi seorang dai adalah tidak mudah berputus asa. Misalnya, jika telah menasihati seseorang, kemudian dia berkata, “Saya telah datang untuk menasihati orang tersebut dua kali, tiga kali, empat kali bahkan lima kali, namun sama sekali tidak bermanfaat”. Tidak benar, janganlah Anda berputus asa. Alloh berfirman,

إِنَّهُ لا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87)

Apakah Anda hendak berputus asa dari rahmat Alloh? Tidak Anda tidak boleh berbuat demikian. Alloh telah berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu.” (QS Fathir: 2)

Maka senantiasa kami ulang-ulang, agar kita tidak seperti bani Israel yang berpaling. Mereka telah dicegah dari berbuat kemungkaran kemudian selesai. Kemudian mereka berkata sebagaimana yang Alloh ceritakan,

لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu , dan supaya mereka bertakwa.” (QS Al A’raaf: 164)

Bagaimana mungkin Anda akan menasihati sekelompok orang yang akan ditimpa azab dan keburukan? Tidak demikian. Jika kita seperti orang-orang yang berputus asa dalam dakwah dan hendak menghalangi kita untuk mendakwahi mereka, maka akan tersebarlah keburukan. Walaupun perintah dan larangan kita tidak bermanfaat bagi manusia, kita tidak boleh putus asa. Kita sampaikan dakwah pada mereka sekali, dua kali, tiga kali terus menerus.

Sebagai contoh nabi Nuh ‘alaihi sallam, berapa lama beliau tinggal di tengah kaumnya? Alloh berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS Al Ankabuut: 14)

Selama 950 tahun beliau tinggal di tengah kaumnya!!! Namun berapa jumlah kaumnya yang beriman dengan dakwah beliau?

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS Huud: 40)

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwahnya adalah 70 sekian orang. Namun sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwah nabi Nuh pada zamannya adalah 12 orang. Apakah beliau berputus asa? Tidak sama sekali. Karena kewajiban beliau adalah berdakwah dan beliau tidak dituntut untuk melihat hasil dakwah beliau. Alloh berfirman,

وَإِن مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (QS Ar Ra’du: 40)

Kewajiban Anda adalah untuk menyampaikan dakwah, untuk memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْء

“Dan kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka” (QS Al An’aam: 52)

Demikianlah sebagian adab dalam beramar ma’ruf nahi munkar yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini.

Syarat-Syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sampailah kita, untuk membicarakan secara singkat tentang syarat-syarat dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagian syarat-syarat ini sebelumnya telah kita bicarakan ketika menjelaskan tentang adab-adab dalam berdakwah seperti harus dilandasi keikhlasan, ilmu dan dengan penuh hikmah. Janganlah seorang dai melarang suatu hal, namun tidak tahu tentang tahapannya. Maka sudah seharusnya bagi seorang dai untuk mempelajari tentang syarat-syarat ini. Para ulama telah membagi syarat menjadi 2 bagian, syarat sah dan syarat disyariatkannya.

Adapun syarat sah sebagai contohnya adalah ikhlas. Jika seorang dai tidak ikhlas, maka dakwahnya tidak sah di sisi Alloh jalla wa ‘ala. Contoh lainnya adalah ilmu tentang apa yang dia bicarakan, tentang apa yang dia perintah dan dia larang atau dengan kata lain, tentang materi dakwahnya. Apakah Anda akan berbicara tentang suatu masalah, Anda memerintahkan atau melarang orang lain untuk melakukannya sementara Anda tidak mengetahui hukum masalah tersebut? Tidak demikian.

Adapun tentang syarat disyariatkannya (masyru’iyyah) di antaranya adalah kekuatan dan kemampuan. Alloh berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqoroh: 286)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah.” (QS At Taghabun: 16)

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Akan tetapi dalam masalah kekuatan dan kemampuan ini, kita harus mengadakan pembahasan yang lebih dalam. Apa makna kekuatan dan kemampuan? Kapan seseorang dikatakan tidak mampu atau tidak kuat? Perkara yang terkait dengan hal ini adalah pada keluarga Anda. Anda adalah pemimpin mereka dan Anda dapat menghilangkan kemungkaran dengan tangan Anda.
Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang terlihat di dalam rumahnya sebuah perbuatan mungkar berkata, “Demi Alloh, anakku yang kecil…”. Maka tidak ada uzur bagi Anda karena Anda mampu untuk mencegah kemungkaran tersebut, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya” dan di rumah Anda, Anda memiliki kekuasaan untuk mencegah kemungkaran. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya”.

Akan tetapi jika Anda melihat sebuah kemungkaran di jalanan. Anda melihat ada yang memasang gambar makhluk yang bernyawa atau ada orang-orang yang sedang bermain musik di jalanan. Jika Anda memiliki kekuasaan untuk mengubahnya, artinya jika Anda mengingkarinya maka orang-orang tersebut akan menerima, maka tidak ada uzur bagi Anda. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Anda untuk berbuat demikian. Akan tetapi jika Anda bukan termasuk orang yang memiliki kekuasaan, “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Adapun jika Anda termasuk orang-orang yang mempunyai kekuasaan dengan lisan Anda dalam masalah ini, maka Anda dapat mengatakan pada orang tersebut, “Ini adalah sebuah kemungkaran, maka lepas gambar itu!!”. Akan tetapi jika Anda menggunakan tangan Anda kemudian menghancurkan gambar tersebut padahal Anda bukanlah orang yang memiliki kekuasaan dalam hal ini, maka hal seperti ini tidak boleh Anda lakukan karena Anda tidak berhak berbuat seperti itu. Yang berhak adalah orang yang memiliki kekuasaan dalam perkara tersebut. Adapun mengingkarinya dengan lisan, maka anda tidak memiliki uzur atas hal tersebut.

Akan tetapi jika ada yang berkata, “Demi Alloh, saya tidak berani mengingkari dengan lisan saya karena saya adalah orang asing di negeri ini. Jika saya mengingkarinya, akan terjadi sesuatu pada diri saya”. Maka jika kondisinya seperti ini, Anda adalah orang yang diberi uzur dan hendaklah Anda mengingkari dengan hati Anda. Contoh yang lain, jika ada orang yang mengatakan, “Saya telah melihat sekelompok orang mengelilingi sebuah mobil yang di dalamnya ada seorang wanita, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya adalah orang yang lemah.” Maka pada kondisi seperti ini, syariat tidak memerintahkan Anda untuk mengingkari hal tersebut karena Anda tidak mampu melakukannya.

Para ulama telah membagi ketidakmampuan dalam hal ini menjadi dua bagian. Yang pertama adalah ketidakmampuan yang terkait dengan ilmu, misalnya jika ada seseorang menyaksikan suatu hal yang mengganjal hatinya namun dia tidak memiliki ilmu untuk melarang dan berbicara tentang hal tersebut. Maka hendaknya orang ini tidak mengingkari maupun mengubah sesuatu hal yang dia anggap mungkar tadi.

Ketidakmampuan yang kedua adalah ketidakmampuan yang terkait dengan fisik. Misalnya jika lisan Anda tidak mampu untuk memperingatkan pelaku kemungkaran atau Anda khawatir mereka akan memukuli Anda atau berbuat sesuatu yang memudhorotkan Anda atau Anda tidak kuat untuk melakukannya. Maka dalam kondisi seperti ini, syariat memberikan kelonggaran pada Anda. Segala puji bagi Alloh atas kemudahan dan keluasan yang Dia berikan.
Akan tetapi, bukan dikatakan tidak mampu jika seseorang takut celaan orang lain. Terkadang syaitan mendatangi seseorang sambil mengatakan, “Jangan engkau ingkari kemungkaran dengan tergesa-gesa, Anda bukanlah orang yang punya kemampuan dalam melakukannya” dan lain sebagainya. Celaan orang lain bukanlah uzur bagi Anda. Alloh berfirman ketika mendeskripsikan Nabi dan para sahabatnya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Alloh dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imron: 173)

Alloh jalla wa ‘ala berfirman ketika menyebutkan sifat orang-orang yang beriman,

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“Yang berjihad dijalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al Maaidah: 54)

Mereka tidak takut celaan orang lain. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit beliau berkata, “Kami telah berbaiat kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu mengatakan bagaimana pun keadaan kami serta tidak takut dengan celaan orang lain”. Oleh karena itu, celaan orang lain bukanlah alasan untuk tidak beramar ma’ruf nahi munkar. Jika anda yakin bahwa orang-orang akan mencela Anda, Anda tetap tidak punya uzur dalam hal tersebut dan Anda tetap wajib untuk menunaikan amar ma’ruf nahi munkar.

Akhirnya, kita akan menutup pembicaraan kita pada kesempatan ini sebagaimana kita membukanya. Kita menutup dengan memuji Alloh jalla wa ‘ala dan kita meminta kepada Alloh agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang menolong agamanya dan menjadikan kita para dai yang menyeru pada kebaikan. Dan semoga Alloh menjadikan umat ini sebagai umat yang berada di atas kebenaran dan senantiasa menegakkan kebenaran dan tidak ternodai oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Dan semoga Alloh senantiasa melindungi orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan yang mencegah kemungkaran baik orang yang dibebani dengan tugas tersebut secara khusus ataupun para dai yang menyeru kebaikan secara umum. Semoga Alloh menerangi cahaya-cahaya bagi orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar dan memadamkan cahaya-cahaya musuh-musuhnya. Semoga Alloh senantiasa menjadikan mereka orang-orang yang teguh di atas petunjuk dan menghasilkan kebaikan dengan nasihat-nasihatnya. Kemudian kita meminta kepada Alloh agar memperbaiki para pemimpin kita, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Moga juga Alloh meninggikan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar melalui para pemimpin kita karena sesungguhnya hanya Dialah yang membolak-balikkan hati. Kita berdoa kepada Alloh dan kita memohon supaya Alloh jalla wa ‘ala mengabulkannya. Kita meminta kepada-Nya pada awal dan akhir pertemuan ini untuk mewafatkan kita dalam keadaan berislam bukan termasuk orang-orang yang menyesal dan merugi. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Tanya Jawab

Pertama

Pertanyaan

Kepada Syaikh yang terhormat, tadi anda menyinggung tentang fitnah perkataan dan amal perbuatan, kami mohon untuk dijelaskan lebih lanjut, jazaakumullohu kohir.

Jawab

Saya telah menyebutkan tentang fitnah perkataan dan perbuatan dalam rangka meminta perlindungan dari keduanya. Kita berlindung dari fitnah perkataan dan perbuatan. Memohon perlindungan dari hal ini telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Mereka meminta perlindungan kepada Alloh dari fitnah ucapan dan perbuatan. Perkataan dapat tercemar dengan fitnah begitu pula dengan amal perbuatan. Di antara fitnah perkataan adalah tidak adanya rasa ikhlas dalam berkata dan dipenuhi dengan riya. Atau agar disebut, “Fulan adalah seorang yang pandai berbicara, dia adalah seorang yang alim” dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menjadi fitnah pada perkataan seseorang. Oleh karena itu disebutkan bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat adalah sedikitnya orang-orang yang alim dan banyaknya para khatib. Makna “sedikitnya orang-orang yang alim” adalah sedikitnya orang-orang yang benar dalam perkataan dan perbuatannya dan banyaknya para khatib/penceramah (tukang bicara) yang menyebarkan keraguan dan sedikit sekali manfaat yang bisa dipetik dari perkataannya karena mereka menebarkan fitnah dalam ucapannya. Begitu pula dengan amal perbuatan,di dalamnya terdapat fitnah. Yang termasuk dalam fitnah perbuatan adalah sikap ‘ujub (membanggakan diri). Sebagian orang melakukan amal kebaikan namun dia merasa besar dan berbangga diri dengan amal tersebut. Dia beramal, namun dengan amal tersebut, dia semakin rendah di mata Robb-nya sehingga terhapuslah amal perbuatannya. Inilah yang menimpa sebagian orang. Demikian pula, ada sebagian orang yang diberi taufik sehingga tidak terkena fitnah dalam amalnya. Dia berbuat sebuah amal perbuatan namun dia senantiasa berharap dan takut apakah amalnya diterima atau tidak? Dia berbuat amal perbuatan namun dia senantiasa berhati-hati seakan-akan dia sedang berjalan di atas jalan yang penuh duri. Dia berhati-hati dari perkataan yang panjang yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari melakukan perbuatan yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari amal perbuatan yang dilakukannya namun dia riya dengan amalnya, riya dengan tilawahnya, riya dengan sholatnya, riya dengan ilmunya, riya dengan pembelajarannya, riya dengan menuntut ilmunya dan hal lainnya yang tidak diragukan lagi akan menjadikannya rendah di mata Robbnya sehingga terhapuslah amalnya.

Sebagian yang lain, senantiasa menganggap kecil amal yang dilakukannya, dan dia berdoa pada Alloh agar menerima amalnya. Hal ini telah digambarkan oleh Alloh jalla wa ‘ala dalam firman-Nya di surat Al Mukminin,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al Mukminun: 60,61)

Dia berbuat baik, bersedekah, dan beramal kebaikan lainnya namun hatinya tidaklah merasa takjub dengan amalnya akan tetapi,

وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Dia ingat dengan firman Alloh jalla wa ‘ala

فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا

“Maka Alloh mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.” (QS Al Hasyr: 2)

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS Az Zumar: 47)

Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa berlindung dari fitnah amal dan perbuatan perlu diperbanyak khususnya bagi orang-orang yang beramal bahkan bagi seluruh kaum mukminin. Semoga Alloh memberikan padaku dan padamu kelurusan dalam perbuatan dan perkataan.

Kedua

Pertanyaan

Pada firman Alloh ta’ala di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Kami mohon Anda menjelaskan tentang makna bashiroh dan jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepadanya?

Jawab

Tentang firman Alloh di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Makna bashiroh adalah segala sesuatu yang bisa menunjukkan jalan-jalan yang telah Alloh perintahkan. Maknanya adalah bahwa bashiroh dalam dakwah (أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ) adalah dengan cahaya dan ilmu dari Alloh. Alloh berfirman,

أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha Suci Alloh dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108)

Maka bashiroh adalah cahaya yang diletakkan dalam hati seseorang untuk mengetahui ilmu tentang Alloh jalla wa ‘ala dan tentang apa yang diturunkan dalam Kitab-Nya serta tentang perkara-perkara yang merupakan sunnah Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bashirohnya adalah dengan bertambahnya ilmu tentang Alloh dan tentang Kitab-Nya. Alloh jalla wa ‘ala telah memerintahkan seorang hamba untuk berdoa,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thoha: 114)

Maka bertambahnya ilmu adalah bertambahnya bashiroh karena dengan ilmu tersebut akan semakin memperjelas Anda. Sebagaimana penglihatan Anda bisa melihat sesuatu, demikian juga dengan hati Anda. Hati Anda dapat melihat yang benar dan yang batil. Dia dapat membedakan antara jalan yang terang dengan jalan yang gelap. Dia dapat membedakan antara jalan yang bermanfaat dalam dakwah dan jalan yang tidak bermanfaat. Hati tersebut juga dapat membedakan antara jalan yang telah Alloh ridhoi untuk ditempuh dan jalan yang tidak diridhoi untuk ditempuh. Walhasil, bashroh adalah pokok dari seluruh perkara dakwah dari awal hingga akhirnya.

Ketiga

Pertanyaan

Bagaimana derajat hadits, “Ya Alloh muliakanlah Islam dengan salah satu di antara dua Umar yang Engkau cintai”?

Jawab

Hadits tersebut adalah hadits yang sahih. Hadits ini diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits diantaranya, Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat dengan sanad yang kuat dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan juga diriwayatkan oleh sejumlah ulama, para ulama mengatakan “Hadits ini Shahih”.

Bagaimana ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Bag. 4) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Situs Salafy.
add a comment

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh:
Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust Aris Munandar

Adab ke-8: Tidak Mudah Putus Asa

Termasuk adab yang penting bagi seorang dai adalah tidak mudah berputus asa. Misalnya, jika telah menasihati seseorang, kemudian dia berkata, “Saya telah datang untuk menasihati orang tersebut dua kali, tiga kali, empat kali bahkan lima kali, namun sama sekali tidak bermanfaat”. Tidak benar, janganlah Anda berputus asa. Alloh berfirman,

إِنَّهُ لا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87)

Apakah Anda hendak berputus asa dari rahmat Alloh? Tidak Anda tidak boleh berbuat demikian. Alloh telah berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu.” (QS Fathir: 2)

Maka senantiasa kami ulang-ulang, agar kita tidak seperti bani Israel yang berpaling. Mereka telah dicegah dari berbuat kemungkaran kemudian selesai. Kemudian mereka berkata sebagaimana yang Alloh ceritakan,

لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu , dan supaya mereka bertakwa.” (QS Al A’raaf: 164)

Bagaimana mungkin Anda akan menasihati sekelompok orang yang akan ditimpa azab dan keburukan? Tidak demikian. Jika kita seperti orang-orang yang berputus asa dalam dakwah dan hendak menghalangi kita untuk mendakwahi mereka, maka akan tersebarlah keburukan. Walaupun perintah dan larangan kita tidak bermanfaat bagi manusia, kita tidak boleh putus asa. Kita sampaikan dakwah pada mereka sekali, dua kali, tiga kali terus menerus.

Sebagai contoh nabi Nuh ‘alaihi sallam, berapa lama beliau tinggal di tengah kaumnya? Alloh berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS Al Ankabuut: 14)

Selama 950 tahun beliau tinggal di tengah kaumnya!!! Namun berapa jumlah kaumnya yang beriman dengan dakwah beliau?

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS Huud: 40)

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwahnya adalah 70 sekian orang. Namun sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwah nabi Nuh pada zamannya adalah 12 orang. Apakah beliau berputus asa? Tidak sama sekali. Karena kewajiban beliau adalah berdakwah dan beliau tidak dituntut untuk melihat hasil dakwah beliau. Alloh berfirman,

وَإِن مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (QS Ar Ra’du: 40)

Kewajiban Anda adalah untuk menyampaikan dakwah, untuk memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْء

“Dan kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka” (QS Al An’aam: 52)

Demikianlah sebagian adab dalam beramar ma’ruf nahi munkar yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini.

Syarat-Syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sampailah kita, untuk membicarakan secara singkat tentang syarat-syarat dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagian syarat-syarat ini sebelumnya telah kita bicarakan ketika menjelaskan tentang adab-adab dalam berdakwah seperti harus dilandasi keikhlasan, ilmu dan dengan penuh hikmah. Janganlah seorang dai melarang suatu hal, namun tidak tahu tentang tahapannya. Maka sudah seharusnya bagi seorang dai untuk mempelajari tentang syarat-syarat ini. Para ulama telah membagi syarat menjadi 2 bagian, syarat sah dan syarat disyariatkannya.

Adapun syarat sah sebagai contohnya adalah ikhlas. Jika seorang dai tidak ikhlas, maka dakwahnya tidak sah di sisi Alloh jalla wa ‘ala. Contoh lainnya adalah ilmu tentang apa yang dia bicarakan, tentang apa yang dia perintah dan dia larang atau dengan kata lain, tentang materi dakwahnya. Apakah Anda akan berbicara tentang suatu masalah, Anda memerintahkan atau melarang orang lain untuk melakukannya sementara Anda tidak mengetahui hukum masalah tersebut? Tidak demikian.

Adapun tentang syarat disyariatkannya (masyru’iyyah) di antaranya adalah kekuatan dan kemampuan. Alloh berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqoroh: 286)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah.” (QS At Taghabun: 16)

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Akan tetapi dalam masalah kekuatan dan kemampuan ini, kita harus mengadakan pembahasan yang lebih dalam. Apa makna kekuatan dan kemampuan? Kapan seseorang dikatakan tidak mampu atau tidak kuat? Perkara yang terkait dengan hal ini adalah pada keluarga Anda. Anda adalah pemimpin mereka dan Anda dapat menghilangkan kemungkaran dengan tangan Anda.
Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang terlihat di dalam rumahnya sebuah perbuatan mungkar berkata, “Demi Alloh, anakku yang kecil…”. Maka tidak ada uzur bagi Anda karena Anda mampu untuk mencegah kemungkaran tersebut, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya” dan di rumah Anda, Anda memiliki kekuasaan untuk mencegah kemungkaran. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya”.

Akan tetapi jika Anda melihat sebuah kemungkaran di jalanan. Anda melihat ada yang memasang gambar makhluk yang bernyawa atau ada orang-orang yang sedang bermain musik di jalanan. Jika Anda memiliki kekuasaan untuk mengubahnya, artinya jika Anda mengingkarinya maka orang-orang tersebut akan menerima, maka tidak ada uzur bagi Anda. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Anda untuk berbuat demikian. Akan tetapi jika Anda bukan termasuk orang yang memiliki kekuasaan, “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Adapun jika Anda termasuk orang-orang yang mempunyai kekuasaan dengan lisan Anda dalam masalah ini, maka Anda dapat mengatakan pada orang tersebut, “Ini adalah sebuah kemungkaran, maka lepas gambar itu!!”. Akan tetapi jika Anda menggunakan tangan Anda kemudian menghancurkan gambar tersebut padahal Anda bukanlah orang yang memiliki kekuasaan dalam hal ini, maka hal seperti ini tidak boleh Anda lakukan karena Anda tidak berhak berbuat seperti itu. Yang berhak adalah orang yang memiliki kekuasaan dalam perkara tersebut. Adapun mengingkarinya dengan lisan, maka anda tidak memiliki uzur atas hal tersebut.

Akan tetapi jika ada yang berkata, “Demi Alloh, saya tidak berani mengingkari dengan lisan saya karena saya adalah orang asing di negeri ini. Jika saya mengingkarinya, akan terjadi sesuatu pada diri saya”. Maka jika kondisinya seperti ini, Anda adalah orang yang diberi uzur dan hendaklah Anda mengingkari dengan hati Anda. Contoh yang lain, jika ada orang yang mengatakan, “Saya telah melihat sekelompok orang mengelilingi sebuah mobil yang di dalamnya ada seorang wanita, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya adalah orang yang lemah.” Maka pada kondisi seperti ini, syariat tidak memerintahkan Anda untuk mengingkari hal tersebut karena Anda tidak mampu melakukannya.

Para ulama telah membagi ketidakmampuan dalam hal ini menjadi dua bagian. Yang pertama adalah ketidakmampuan yang terkait dengan ilmu, misalnya jika ada seseorang menyaksikan suatu hal yang mengganjal hatinya namun dia tidak memiliki ilmu untuk melarang dan berbicara tentang hal tersebut. Maka hendaknya orang ini tidak mengingkari maupun mengubah sesuatu hal yang dia anggap mungkar tadi.

Ketidakmampuan yang kedua adalah ketidakmampuan yang terkait dengan fisik. Misalnya jika lisan Anda tidak mampu untuk memperingatkan pelaku kemungkaran atau Anda khawatir mereka akan memukuli Anda atau berbuat sesuatu yang memudhorotkan Anda atau Anda tidak kuat untuk melakukannya. Maka dalam kondisi seperti ini, syariat memberikan kelonggaran pada Anda. Segala puji bagi Alloh atas kemudahan dan keluasan yang Dia berikan.
Akan tetapi, bukan dikatakan tidak mampu jika seseorang takut celaan orang lain. Terkadang syaitan mendatangi seseorang sambil mengatakan, “Jangan engkau ingkari kemungkaran dengan tergesa-gesa, Anda bukanlah orang yang punya kemampuan dalam melakukannya” dan lain sebagainya. Celaan orang lain bukanlah uzur bagi Anda. Alloh berfirman ketika mendeskripsikan Nabi dan para sahabatnya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Alloh dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imron: 173)

Alloh jalla wa ‘ala berfirman ketika menyebutkan sifat orang-orang yang beriman,

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“Yang berjihad dijalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al Maaidah: 54)

Mereka tidak takut celaan orang lain. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit beliau berkata, “Kami telah berbaiat kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu mengatakan bagaimana pun keadaan kami serta tidak takut dengan celaan orang lain”. Oleh karena itu, celaan orang lain bukanlah alasan untuk tidak beramar ma’ruf nahi munkar. Jika anda yakin bahwa orang-orang akan mencela Anda, Anda tetap tidak punya uzur dalam hal tersebut dan Anda tetap wajib untuk menunaikan amar ma’ruf nahi munkar.

Akhirnya, kita akan menutup pembicaraan kita pada kesempatan ini sebagaimana kita membukanya. Kita menutup dengan memuji Alloh jalla wa ‘ala dan kita meminta kepada Alloh agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang menolong agamanya dan menjadikan kita para dai yang menyeru pada kebaikan. Dan semoga Alloh menjadikan umat ini sebagai umat yang berada di atas kebenaran dan senantiasa menegakkan kebenaran dan tidak ternodai oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Dan semoga Alloh senantiasa melindungi orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan yang mencegah kemungkaran baik orang yang dibebani dengan tugas tersebut secara khusus ataupun para dai yang menyeru kebaikan secara umum. Semoga Alloh menerangi cahaya-cahaya bagi orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar dan memadamkan cahaya-cahaya musuh-musuhnya. Semoga Alloh senantiasa menjadikan mereka orang-orang yang teguh di atas petunjuk dan menghasilkan kebaikan dengan nasihat-nasihatnya. Kemudian kita meminta kepada Alloh agar memperbaiki para pemimpin kita, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Moga juga Alloh meninggikan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar melalui para pemimpin kita karena sesungguhnya hanya Dialah yang membolak-balikkan hati. Kita berdoa kepada Alloh dan kita memohon supaya Alloh jalla wa ‘ala mengabulkannya. Kita meminta kepada-Nya pada awal dan akhir pertemuan ini untuk mewafatkan kita dalam keadaan berislam bukan termasuk orang-orang yang menyesal dan merugi. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Tanya Jawab

Pertama

Pertanyaan

Kepada Syaikh yang terhormat, tadi anda menyinggung tentang fitnah perkataan dan amal perbuatan, kami mohon untuk dijelaskan lebih lanjut, jazaakumullohu kohir.

Jawab

Saya telah menyebutkan tentang fitnah perkataan dan perbuatan dalam rangka meminta perlindungan dari keduanya. Kita berlindung dari fitnah perkataan dan perbuatan. Memohon perlindungan dari hal ini telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Mereka meminta perlindungan kepada Alloh dari fitnah ucapan dan perbuatan. Perkataan dapat tercemar dengan fitnah begitu pula dengan amal perbuatan. Di antara fitnah perkataan adalah tidak adanya rasa ikhlas dalam berkata dan dipenuhi dengan riya. Atau agar disebut, “Fulan adalah seorang yang pandai berbicara, dia adalah seorang yang alim” dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menjadi fitnah pada perkataan seseorang. Oleh karena itu disebutkan bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat adalah sedikitnya orang-orang yang alim dan banyaknya para khatib. Makna “sedikitnya orang-orang yang alim” adalah sedikitnya orang-orang yang benar dalam perkataan dan perbuatannya dan banyaknya para khatib/penceramah (tukang bicara) yang menyebarkan keraguan dan sedikit sekali manfaat yang bisa dipetik dari perkataannya karena mereka menebarkan fitnah dalam ucapannya. Begitu pula dengan amal perbuatan,di dalamnya terdapat fitnah. Yang termasuk dalam fitnah perbuatan adalah sikap ‘ujub (membanggakan diri). Sebagian orang melakukan amal kebaikan namun dia merasa besar dan berbangga diri dengan amal tersebut. Dia beramal, namun dengan amal tersebut, dia semakin rendah di mata Robb-nya sehingga terhapuslah amal perbuatannya. Inilah yang menimpa sebagian orang. Demikian pula, ada sebagian orang yang diberi taufik sehingga tidak terkena fitnah dalam amalnya. Dia berbuat sebuah amal perbuatan namun dia senantiasa berharap dan takut apakah amalnya diterima atau tidak? Dia berbuat amal perbuatan namun dia senantiasa berhati-hati seakan-akan dia sedang berjalan di atas jalan yang penuh duri. Dia berhati-hati dari perkataan yang panjang yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari melakukan perbuatan yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari amal perbuatan yang dilakukannya namun dia riya dengan amalnya, riya dengan tilawahnya, riya dengan sholatnya, riya dengan ilmunya, riya dengan pembelajarannya, riya dengan menuntut ilmunya dan hal lainnya yang tidak diragukan lagi akan menjadikannya rendah di mata Robbnya sehingga terhapuslah amalnya.

Sebagian yang lain, senantiasa menganggap kecil amal yang dilakukannya, dan dia berdoa pada Alloh agar menerima amalnya. Hal ini telah digambarkan oleh Alloh jalla wa ‘ala dalam firman-Nya di surat Al Mukminin,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al Mukminun: 60,61)

Dia berbuat baik, bersedekah, dan beramal kebaikan lainnya namun hatinya tidaklah merasa takjub dengan amalnya akan tetapi,

وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Dia ingat dengan firman Alloh jalla wa ‘ala

فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا

“Maka Alloh mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.” (QS Al Hasyr: 2)

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS Az Zumar: 47)

Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa berlindung dari fitnah amal dan perbuatan perlu diperbanyak khususnya bagi orang-orang yang beramal bahkan bagi seluruh kaum mukminin. Semoga Alloh memberikan padaku dan padamu kelurusan dalam perbuatan dan perkataan.

Kedua

Pertanyaan

Pada firman Alloh ta’ala di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Kami mohon Anda menjelaskan tentang makna bashiroh dan jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepadanya?

Jawab

Tentang firman Alloh di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Makna bashiroh adalah segala sesuatu yang bisa menunjukkan jalan-jalan yang telah Alloh perintahkan. Maknanya adalah bahwa bashiroh dalam dakwah (أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ) adalah dengan cahaya dan ilmu dari Alloh. Alloh berfirman,

أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha Suci Alloh dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108)

Maka bashiroh adalah cahaya yang diletakkan dalam hati seseorang untuk mengetahui ilmu tentang Alloh jalla wa ‘ala dan tentang apa yang diturunkan dalam Kitab-Nya serta tentang perkara-perkara yang merupakan sunnah Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bashirohnya adalah dengan bertambahnya ilmu tentang Alloh dan tentang Kitab-Nya. Alloh jalla wa ‘ala telah memerintahkan seorang hamba untuk berdoa,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thoha: 114)

Maka bertambahnya ilmu adalah bertambahnya bashiroh karena dengan ilmu tersebut akan semakin memperjelas Anda. Sebagaimana penglihatan Anda bisa melihat sesuatu, demikian juga dengan hati Anda. Hati Anda dapat melihat yang benar dan yang batil. Dia dapat membedakan antara jalan yang terang dengan jalan yang gelap. Dia dapat membedakan antara jalan yang bermanfaat dalam dakwah dan jalan yang tidak bermanfaat. Hati tersebut juga dapat membedakan antara jalan yang telah Alloh ridhoi untuk ditempuh dan jalan yang tidak diridhoi untuk ditempuh. Walhasil, bashroh adalah pokok dari seluruh perkara dakwah dari awal hingga akhirnya.

Ketiga

Pertanyaan

Bagaimana derajat hadits, “Ya Alloh muliakanlah Islam dengan salah satu di antara dua Umar yang Engkau cintai”?

Jawab

Hadits tersebut adalah hadits yang sahih. Hadits ini diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits diantaranya, Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat dengan sanad yang kuat dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan juga diriwayatkan oleh sejumlah ulama, para ulama mengatakan “Hadits ini Shahih”.

Bagaimana ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Bag. 3) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
add a comment

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh:
Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust Aris Munandar

 

Adab Ke-5: Al Hikmah
Adab selanjutnya adalah Al Hikmah. Alloh Jalla wa ‘Ala berfirman:

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Alloh menganugerahkan Al Hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS Al Baqoroh: 269)

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An Nahl: 125)

Al Hikmah merupakan tuntutan dalam dakwah, akan tetapi apakah yang disebut Al Hikmah? Sebagian manusia tidak mengetahui makna Al Hikmah. Al Hikmah adalah menempatkan sebuah perkara sesuai dengan kedudukannya. Beramar ma’ruf pada saat yang tepat dan ketika dibutuhkan, mencegah kemungkaran pada saat yang tepat dan berdakwah pada saat yang tepat, demikianlah makna hikmah. Oleh karena itu wajib bagi seorang da’i untuk menjadi orang yang penuh Hikmah. Bagaimana seseorang disebut sebagai seorang yang penuh Hikmah dalam dakwah?

  1. Memahami dan mengetahui langkah-langkah dalam dakwah.
  2. Memahami dan mengetahui jenis objek dakwah.
  3. Memahami dan mengetahui posisi perintah dan larangan yang hendak disampaikan.
  4. Memahami dan mengetahui permasalahan maslahat dan bahaya.

Jika seorang dai dapat bersikap penuh hikmah, niscaya dakwahnya akan menghasilkan manfaat yang nyata. Sebaliknya jika seorang da’i tidak memiliki sikap Hikmah, maka dakwahnya tidak akan membuahkan kesuksesan sebanding sikap Hikmah yang dia tinggalkan.

Perkara yang pertama, hendaklah seorang da’i mengetahui tahapan-tahapan dakwah. Tahapan-tahapan dakwah ini telah dijelaskan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disepakati kesahihannya dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman berkata: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok Ahli kitab, maka hendaklah engkau jadikan perkara pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka menauhidkan Alloh (dalam riwayat lain agar mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh). Jika mereka memenuhi seruanmu itu, maka beritahukanlah pada mereka bahwa Alloh mewajibkan mereka untuk menegakkan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka memenuhi seruanmu itu,maka beritahukanlah mereka bahwa Alloh mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan pada orang-orang miskin…” (Al Hadits). Hadits ini menerangkan tentang tahapan-tahapan dakwah. Sudah seharusnya seorang dai bersikap penuh Hikmah dan mengetahui tahapan-tahapan dakwah ini.

Ada seseorang yang datang mengatakan, “Aku memiliki seorang teman yang hendak masuk Islam.” Alhamdulillah, ini adalah sebuah berita yang sangat baik, sebuah berita yang menyenangkan jiwa. Maka apa yang hendak engkau ajarkan pada orang yang baru masuk Islam tadi wahai saudaraku? Kemudian dia menjawab, “Aku akan mengajarkannya tata cara sholat.”

Subhanalloh!!, bukankah dia seorang Nasrani, Majusi, Hindu atau selainnya? Anda ajarkan dia sholat? Mana pengajaran tentang Tauhid!? Hal seperti ini sangat banyak terjadi. Jika ada seseorang yang hendak masuk Islam, mereka mengajarkannya sholat. Orang tersebut berkata, “Aku ingin masuk Islam”, kemudian dia diajari sholat kemudian dikatakan pada orang tersebut, “Jangan berbuat begini dan begitu, lakukanlah ini dan itu!!” Adapun tentang tauhid, maka tidak dijelaskan pada orang yang baru masuk Islam ini. Padahal tauhid adalah pokok agama. Tidak dijelaskan padanya tentang keimanan pada Alloh dan wajibnya kufur pada Thoghut padahal hal tersebut adalah perkara agama. Jika demikian, orang seperti ini tidak memiliki Hikmah dalam dakwah. Dia tidak mengetahui tahapan dakwah. Hal pertama yang harus didakwahkan adalah masalah tauhid, masalah ikhlas kepada Alloh, Anda jelaskan kepada objek dakwah anda tentang hak Alloh yang harus dipenuhi. Karena sesungguhnya jika seorang hamba mengetahui hak-hak Alloh maka dia akan senantiasa istiqomah.

Dahulu ada seseorang yang masuk Islam dan ia berhak untuk masuk surga dengan satu ucapan Laa ilaha illalloh muhammad rosululloh. Dia masuk surga padahal belum pernah sholat satu rakaat pun. Karena dia mengucapkan kalimat Laa ilaha illalloh muhammad rosululloh kemudian dia terbunuh dalam peperangan sebelum datang waktu sholat sehingga dia bisa sholat. Oleh karena itu, Tauhid adalah perkara yang paling agung. Hadits tentang pengiriman Mu’adz ke Yaman adalah dalil yang sangat jelas tentang hal tersebut. Maka hendaklah Anda memperhatikannya.

Jika ada seseorang yang tidak menunaikan zakat, kemudian Anda datang kepadanya dan Anda berkata, “bersedekahlah kepada orang ini, sedekah adalah sebuah kebaikan” sedangkan dia tidak mau membayar zakat. Bagaimana mungkin Anda memerintahkannya untuk bersedekah? Maka hendaknya Anda mengajarkan zakat terlebih dahulu, yang merupakan salah satu kewajiban dari Alloh.

Demikian juga, jika ada seseorang yang tidak menunaikan sholat di masjid. Dia tidak sholat di masjid dan tidak terlihat di masjid kecuali hari Jumat atau bahkan sama sekali tidak sholat di masjid. Kemudian Anda datang kepadanya dan Anda menyampaikan padanya tentang urgensi sholat witir dan qiyamullail, ini bukanlah sebuah perkataan yang tepat.

Atau jika ada seseorang yang tidak pernah membaca Al Quran sama sekali atau hanya membacanya pada bulan Ramadhan kemudian Anda katakan padanya bahwa ia harus membaca Al Quran satu juz per hari dan ia harus khatam setiap bulan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi??? Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi Anda untuk mengetahui tahapan dakwah. Anda mengajak orang lain sedikit demi sedikit menuju kebaikan.

Ibnu Qoyyim telah memberikan sebuah contoh tentang hal ini pada kitabnya yang berjudul Ma’alimul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin atau yang lebih terkenal dengan judul I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin. Beliau berkata, “Jika Anda mendatangi beberapa orang dan Anda mendapati mereka sedang bermain catur (ini adalah perkataan Ibnu Qoyyim) dan Anda ingin melarang mereka dari hal ini dan dengan larangan anda tersebut mereka bisa berpindah kepada yang lebih baik dari pada main catur, membawa mereka kepada majelis kebaikan dan majelis tempat mengingat Alloh, mereka berpindah kepada perkumpulan yang penuh berkah atau kepada nasihat dan saling silaturrahim maka ini adalah kebaikan. Merupakan sebuah hikmah dan kebaikan jika Anda melarang mereka dan memerintahkan mereka untuk berbuat yang lebih utama. Adapun jika Anda mendatanginya sedangkan mereka adalah para pemuda yang masih bergejolak jiwanya, dan terdapat keburukan dan kefasikan dalam jiwanya kemudian Anda melarangnya bermain catur namun membuat mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai kehormatan kaum muslimin, maka larangan Anda kepada mereka untuk bermain catur lebih wajib untuk dilarang karena tidak dilandasi dengan hikmah”.

Anda menginginkan perbaikan dan kebaikan, maka sudah seharusnya Anda membawa mereka yang bermain catur tadi pada kondisi yang lebih baik. Jika Anda tidak mampu untuk membawa mereka kepada kondisi yang lebih baik atau jika larangan dan perintah Anda kepadanya akan menjadikan keadaannya lebih buruk maka selayaknya Anda diam sampai ada orang yang dapat memperbaiki dan membawa mereka menjadi lebih baik atau anda bisa mempelajari strategi untuk memindahkan mereka dari keburukan tersebut dengan penuh kelemahlembutan. Oleh karena itu sudah seharusnya Anda mengetahui tahapan-tahapan dakwah.

Perkara yang kedua, hendaknya seorang da’i memahami dan mengenal kedudukan objek dakwahnya. Kedudukan manusia bertingkat-tingkat, bukankah demikian? Di antara mereka adalah pemimpin, pemerintah, hakim dan lain sebagainya. Apakah Anda hendak berbicara dengan mereka seperti Anda berbicara kepada anak-anak Anda atau kepada anak kecil? Kemudian anda mengatakan dengan bangga, “Ini adalah kemuliaan dan kekuatan?” tidak, perbuatan seperti ini tidak berlandaskan hikmah sama sekali.

Anda pasti mengharapkan mendapatkan manfaat, maka jalan apapun yang dapat Anda tempuh maka tempuhlah jalan tersebut. Jalan tersebut bukanlah jika dikatakan pada Anda: Fulan telah berkata demikian dan demikian, fulan memiliki kepribadian yang kuat, fulan memiliki sifat begini dan begitu. Padahal perkataan Anda ini tidak bermanfaat bahkan menambah keburukan dengan keburukan lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini adalah kesalahan. Maka selayaknya bagi dai untuk mengetahui kedudukan/status objek dakwah Anda. Apakah dia orang pemerintahan ataukah seorang ulama kemudian Anda juga harus mengetahui bagaimana berbicara dengan mereka.

Terkadang seorang ulama berbuat suatu kesalahan, kemudian Anda datang dan berkata padanya, “Bertakwalah kepada Alloh!! Pakaian anda begini dan begitu, kenapa Anda menipiskan janggut Anda atau kenapa Anda begini dan begitu??” Anda berkata padanya dengan ungkapan yang buruk. Seorang ulama tidak bisa dinasihati ataupun didakwahi dengan cara seperti ini. Akan tetapi dia didakwahi dengan cara yang baik. Hendaknya Anda mengingatkannya dengan ayat Al Quran dan tafsirnya yang maksudnya dipahami. Jika Alloh mengaruniakan kepadanya istiqomah, maka hal itu adalah nikmat dari Alloh. Jika demikian, Anda tidak bisa memperlakukan seorang alim sebagaimana Anda memperlakukan seorang yang bodoh atau bawahan Anda. Hal ini mengisyaratkan pada suatu hal. Apakah seorang anak kecil diajak kepada kebaikan dengan metode yang sama seperti seorang yang berakal yang sudah dapat memahami dan sudah dibebani oleh syariat? Tidak demikian. Setiap orang sesuai dengan kedudukannya. Oleh karena itu, merupakan sebuah hikmah jika Anda mengenal kedudukan manusia.

Perkara yang ketiga, hendaklah seorang dai yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran mengetahui status perintah dan larangan. (wajib ataukah sunnah ataukah makruh ataukah haram –pent)

Perkara yang keempat, termasuk dari hikmah hendaklah seorang dai yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran mengetahui dan memahami tentang maslahat dan mafsadat. Karena terkadang seseorang memerintahkan kebaikan yang ternyata lebih bermanfaat pada waktu yang lainnya.

Sebagai contoh, jika datang seseorang kemudian dia berkata, “mari kita duduk dan membaca Al Quran”. Tidak disangsikan lagi bahwa membaca Al Quran adalah suatu amalan yang utama. Akan tetapi, di dekat mereka ada yang berbuat kemungkaran sedangkan mereka dalam jumlah yang banyak yang dapat mencegah kemungkaran tersebut, maka manakah yang lebih utama di antara keduanya? Tidak diragukan lagi bahwa waktu membaca Al Quran sangat luang sedangkan di dekat mereka ada sebuah kemungkaran yang nampak maka hendaklah Anda pergi untuk menghilangkan mafsadat kemudian Anda ikut membaca Al Quran.

Demikian juga jika ada seseorang yang berkata, “Saya duduk untuk mengingat Alloh setelah sholat subuh sampai matahari terbit”, padahal keluarganya tertidur dan tidak bangun untuk melaksanakan sholat subuh dan dia tahu bahwa mereka selalu sholat subuh jika matahari mulai terbit. Apakah ini tindakan seorang yang bijaksana atau tidak? Bagaimana mungkin Anda bisa berzikir, membaca Al Quran, bertahlil dan bertasbih sampai matahari terbit padahal di rumah Anda ada orang yang baru sholat subuh jika matahari telah terbit. Ini adalah sebagian contoh tentang perlunya memahami perintah, maka hendaklah Anda perhatikan.

Demikian juga tentang larangan, ada mafsadat dan maslahat yang perlu Anda pertimbangkan yang terkait dengan larangan. Mengingkari sebuah kemungkaran adalah Fardhu Kifayah. Barang siapa yang melihatnya wajib untuk mengingkarinya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga kedudukan orang yang melihat kemungkaran. Pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id Al Khudri beliau bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.”

Akan tetapi terkadang Anda mengingkari sebuah kemungkaran yang ternyata akan menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar dan akan berakibat buruk pada orang lain. Sebagai contoh adalah orang-orang yang membunuh orang yang jelas berbuat murtad di sebagian negeri. Tidak diragukan lagi bahwa membunuh orang yang jelas berbuat murtad adalah boleh. Akan tetapi jika datang sekelompok pemuda yang mengatakan, “Kami akan membunuh orang murtad tadi”. Baik, kalian membunuh mereka satu orang kemudian mereka akan membunuh 100 orang di antara kalian, apakah yang seperti ini diperbolehkan? Tidak, syariat tidak pernah memerintahkan perbuatan seperti itu. Kalian dapat mengingkari kemungkaran tersebut dengan cara membuat selebaran atau kaset-kaset dan tidak perlu disebutkan siapa penulisnya. Hal seperti ini adalah sebuah kemungkaran yang akan menimbulkan kemungkaran lain pada sekelompok orang. Maka perbuatan seperti ini wajib diingkari dan tidak boleh dilakukan. Dan pelakunya berdosa serta tidak mendapatkan balasan pahala.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rohimahulloh pernah menceritakan tentang dirinya –sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya, Ma’alimul Muwaqi’in-, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan bahwa beliau pernah berjumpa dengan orang Tartar yang sedang mabuk-mabukan di jalan umum secara terang-terangan di hadapan banyak orang. Maka sahabat-sahabat beliau berkata, “Mari kita ingkari mereka yang sedang mabuk-mabukan ini, mereka meminum khamar di hadapan kita!!”. Maka Syaikhul Islam berkata, “Wahai saudaraku, biarkanlah mereka. Sesungguhnya Alloh melarang meminum khamar karena dapat melalaikan dari sholat dan mengingat Alloh. Sedangkan, jika mereka meminum khamar akan mencegah mereka untuk menganiaya dan membunuh kaum muslimin”.

Demikianlah sikap penuh hikmah yang dimiliki oleh para ulama, ini adalah pemahaman yang benar karena beliau mempertimbangkan maslahat dan mafsadat yang akan terjadi. Akan tetapi siapakah yang bisa mendapatkan pemahaman seperti ini? Orang yang bisa memiliki pemahaman seperti ini adalah orang yang telah diberikan Hikmah. Alloh berfiman,

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Alloh menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS Al Baqoroh: 269)

Mungkin jika sebagian orang saat ini pada waktu itu berada di sisi Ibnu Taimiyyah mereka akan berkata, “Ibnu Taimiyyah begini dan begitu, mengapa dia mendiamkan mereka, mengapa dia tidak mengingkari orang yang mabuk dengan terang-terangan?”. Tidak, bukan demikian. Beliau meyakini bahwa wajib untuk mengingkari kemungkaran. Akan tetapi jika Anda mengingkari mereka pada saat tersebut, Anda tidak akan menjadikan mereka lebih baik bahkan akan membawa mereka untuk berbuat yang lebih buruk. Bukannya Anda menjadi penyebab perbuatan baik, akan tetapi Anda akan menjadi sebab mereka berbuat yang lebih buruk, maka lebih baik membiarkan mereka pada kondisi sebelumnya (yakni dalam keadaan mabuk, -pent). Demikianlah sebagian pembahasan yang terkait dengan sikap penuh Hikmah.

Adab ke-6: Sabar
Sikap lain yang dibutuhkan oleh seorang dai yang beramar ma’ruf nahi mungkar adalah kesabaran. Alloh Jalla wa ‘Ala telah memerintahkan Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar. Padahal Alloh telah menghiasi beliau dengan akhlak yang mulia, Alloh berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qolam: 4)

Di samping itu Alloh pun berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS An Nahl: 127)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS Al Ahqaaf: 35)

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS Ar Ruum: 60)

Alloh berfirman dan memuji hamba-hambanya yang beriman yang diselamatkan oleh Alloh dari kerugian,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al Ashr: 3)

Seorang dai harus memiliki sifat sabar. Jika ada suatu hal yang menyakiti maka dia bersabar dan mengharapkan seluruh urusannya hanya pada Alloh. Maka hendaknya dia bersabar, dan dia akan diberikan ganjaran atas kesabarannya sebagaimana dia diberi ganjaran atas dakwah yang dia lakukan.

Adab ke-7: Memiliki Kehormatan (‘Izzah) dan Teguh di Atas Kebenaran
Akhlak dan Adab selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang dai setelah bersabar adalah memiliki kehormatan (‘izzah) dan teguh di atas kebenaran. Sifat-sifat yang telah kami sebutkan sebelumnya, bukanlah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang lemah dan tidak memiliki kehormatan sebagaimana persangkaan sebagian orang. Dia menundukkan pandangannya dari segala sesuatu, tidak, bukan demikian. Maka dalam sikap ini dia harus senantiasa meneladani Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Yaitu dia memiliki kehormatan dan teguh di atas kebenaran. Artinya adalah tidak ridho jika ada larangan Alloh yang dilanggar di hadapannya. Dia tidak ridho duduk di sebuah perkumpulan yang di dalamnya berisi maksiat kepada Alloh. Bukan termasuk dakwah dan sikap yang bijaksana dan tidak juga hal baik jika Anda duduk dalam sebuah perkumpulan tersebut kemudian Anda berkata, “Saya ingin mendakwahi mereka”, padahal mereka adalah orang-orang para pencandu kemungkaran. Jika demikian, berarti Anda bersekongkol dengan mereka dalam keburukan, jika Anda tidak mau berpisah dengan perkumpulan tersebut.

Wahai saudara-saudara sekalian, jika Kalian ingin berbuat seperti ini maka tidak ada tempat bagiku untuk mengizinkan kalian (aku tidak berhak memberi izin pada kalian). Alloh telah memerintahkan kita untuk tidak duduk bersama orang-orang yang mengingkari dan mempermainkan ayat-ayat Alloh. Alloh berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِّثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (QS An Nisa: 140)

Para ulama telah mengambil kesimpulan dari ayat ini, bahwa orang yang ridho dengan perbuatan dosa sama dengan orang yang berbuat dosa tersebut walaupun dia tidak melakukannya. Sebagai contoh jika disampaikan pada seseorang bahwa ada temannya yang minum khamar, kemudian orang ini ternyata ridho dengan perbuatan tersebut. Maka orang ini sama dengan peminum khamar tersebut dalam masalah dosanya bukan dalam masalah penegakan hukuman ataupun akibat yang dihasilkan.

Maka dapat disimpulkan bahwasanya wajib bagi seorang dai untuk memiliki sikap yang tegas dalam kebenaran jika dia menghadapi hal-hal yang menjadikannya harus bersikap tegas. Jika perbuatan yang haram telah dilanggar, banyak orang memperolok ayat-ayat Alloh dan sombong di hadapannya, mereka bersikap lancang dengan kebenaran dan menampakkan dengan terang-terangan perbuatan buruk mereka. Maka pada kondisi seperti ini, seorang dai haruslah bersikap tegas untuk menghadapinya. Adapun dalam masalah dakwah, maka hendaknya senantiasa dilakukan dengan lemah lembut. yang dimaksud dengan kekuatan dan kemuliaan bukanlah dengan menyerbu orang-orang yang berbuat kemungkaran tersebut. Namun yang dimaksud dengan kekuatan dan kemuliaan tersebut adalah dengan mencegah mereka dari keburukan dan kemungkaran dan menghilangkan kemungkaran serta mengubahnya jika Anda memiliki kemampuan.