jump to navigation

Bagaimana Amar Mar’uf Nahi Munkar? (Bag 2) November 4, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
trackback

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh: Abu Sa’id Satria Buana & Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust. Aris Munandar

Adab ke-3: Beramal Dengan Ilmu
Jika engkau memerintahkan perkara ma’ruf maka jadilah engkau sebagai orang pertama yang mengamalkannya, jika engkau melarang dari perkara mungkar maka jadilah engkau sebagai orang pertama yang meninggalkannya. Dalam hadits yang shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga golongan yang terlebih dahulu memasuki neraka…“ : (diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya) kemudian Beliau menyebutkan salah satu di antaranya yakni orang yang mengetahui akan tetapi tidak mengamalkannya, seorang yang membaca Al Quran, seorang yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kemudian pada hari kiamat ia berkata di hadapan Alloh ‘azza wa jalla : “aku memerintahkan dan melarang karena Engkau, maka Alloh subhanahu wa ta’ala berkata: “Engkau dusta…”. Orang tersebut adalah orang yang memerintahkan manusia untuk melakukan perkara ma’ruf akan tetapi ia tidak melakukannya, ia adalah seorang yang melarang dari perbuatan mungkar akan tetapi ia sendiri orang yang paling terdahulu melakukan kemungkaran tersebut. Ini adalah bencana yang besar yang tampak pada sebagian orang.

Beramal dengan ilmu merupakan perkara yang harus dilakukan, karena dengannya Alloh memberikan manfaat orang lain dengan apa yang engkau katakan kemudian engkau amalkan dan engkau dakwahkan. Jangan engkau kira bahwa ketika engkau bermaksiat kepada Alloh pada tempat yang sepi tidak akan memberikan dampak yang nyata, tidak karena perbuatan tersebut tetap mempunyai dampak. Karena engkau adalah dai yang memiliki objek dakwah, sedangkan yang memberi petunjuk adalah Alloh subhanahu wa ta’ala, dan Alloh Maha melihat apa yang engkau lakukan dan apa dalam hatimu. Akan tetapi akan datang beberapa perkara yang menjelaskan bahwa orang yang tidak melakukan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala tidak berarti ia tidak boleh melarang dari kemungkaran.

Salah seorang yang berpidato, ia memerintahkan perkara ma’ruf dan melarang perkara munkar sambil menasihati dan dan membuat hadirin menangis, tiba-tiba seseorang datang memberikan selembar kertas yang berisikan bait-bait syair yang terkenal, kemudian ia membacanya dalam hatinya :

يـا أيـها الرجـل المـعلم غيـره هلا. لنفسك كان ذا التعليـم
تصف الدواء لذي السقام وذي الضنا كي ما تصح به وأنت سقيـم
ابـدأ بنفسك فانـهها عـن غـيها فـإن.انتهت عنه فأنت عظيم
فـهنـاك يُـقْبَل ما تـقول ويُقْتَدَى بـالقول مـنك وينفع التعليم
لا تَـنْهَ عـن خـلق وتـأتيَ مـثله عـار عليك إذا فعلت .عظيم

Wahai orang yang menyeru orang lain
Andai jiwamu sendiri pun kau dakwahi
Kau berikan obat bagi yang berpenyakit
Supaya sembuh sementara engkau sendiri sakit
Mulailah dari jiwamu dan laranglah ia dari kesesatannya
Jika engkau bisa melakukannya maka sungguh engkau akan menjadi mulia
Di sana ada orang yang menerima perkataanmu
Barulah ucapanmu diterima dan diikuti sehingga orang lain mendapat manfaat dari ilmumu
Jangan engkau larang seseorang dari suatu perbuatan sedangkan engkau malah melakukannya
Sungguh jika engkau melakukan hal tersebut aib yang sangat memalukan

Alloh jadikan para Nabi melaksanakan perkara yang Alloh ajarkan. Alloh berfirman dalam rangka mengabarkan tentang keadaan nabi Syuaib ‘alaihi salam:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Alloh. hanya kepada Alloh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (QS Hud: 88)

Alloh ‘azza wa jalla mengabarkan kepada hamba-hambaNya agar mereka menyesuaikan perkataan mereka dengan amal perbuatan, dan Alloh melarang larangan keras mereka untuk berdusta dalam perkataan sebagaimana Alloh juga melarang keras untuk berdusta dalam amalan, Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS Ash Shoff: 3)

كَبُرَ مَقْتًا yakni amat besar kemarahan, المقت adalah kemarahan yang sangat besar. Maka ayat ini menunjukkan bahwa Alloh sangat marah kepada orang yang mengajarkan atau berkata akan tetapi tidak mengamalkannya, maka bagaimana engkau berharap kebaikan dari ajakanmu, kebaikan dari perintahmu kebaikan dari laranganmu? Maka bencana ini adalah hasil dari ulah kita sendiri, bencana ini dari ulah diri kita sendiri, kita harus mengintrospeksi diri kita dan meminta kepada Alloh agar memaafkan perbuatan maksiat dan dosa-dosa kita.

Adab ke-4: Lembut dan Penyayang
Termasuk adab seorang dai adalah ia mempunyai sifat Rahiim dan Rafiiq, yakni ia mempunyai sifat lembut dan penyayang. Sifat Rahmat, kasih sayang, dan kelemahlembutan merupakan hasil yang didapat dari keikhlasan dan tulus (dalam dakwah kepada Alloh). Jika seseorang itu ikhlas dalam dakwah maka otomatis ia akan penyayang dan bersikap lemah lembut. Alloh berfirman mengisahkan kisah Nabi Musa dan Harun yang diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun:

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thoha: 44)

Dan Alloh menyifatkan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah: 128)

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang penyayang dan lemah lembut, apakah kita tidak mengikuti tuntunan beliau?

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُِولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Alloh.” (QS Al Ahzab: 21)

Rosululloh bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shohihnya:

(إنما يرحم الله من عباده الرحماء)

“Sesungguhnya Alloh hanya merahmati hamba-hambanya yang penyayang”. (HR Bukhari)

Beliau bersabda dalam hadits lain:

(الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء)

“Ar-Rahman mencintai orang-orang yang penyayang, sayangilah makhluk yang di bumi niscaya Zat yang di langit akan menyayangimu.”

Seseorang harus memiliki sifat kasih sayang, berkasih sayang dengan objek dakwahnya. Apa yang engkau inginkan? Bukankah engkau menginginkan ia mendapat petunjuk? Apakah engkau ingin agar perkara orang tersebut menjadi baik? Apakah engkau ingin agar ia menjadi orang yang istiqomah dalam amal dan hatinya? Kalau begitu mengapa engkau tidak bersikap kasih sayang kepadanya? Mengapa engkau bersikap keras bukan pada tempatnya? Bukankah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Aisyah :

(يا عائشة، إن الرفق ما كان في شيء إلا زانه، ولا نزع من شيء إلا شانه)

“Wahai Aisyah tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya dan tidaklah kelemahlembutan dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.”

Kelemahlembutan akan menghiasi segala sesuatu, dan sebaliknya jika kelemahlembutan dicabut dari sesuatu maka akan merusaknya. Termasuk dalam perkara ini adalah dalam berdakwah, dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar harus disertai dengan kelemahlembutan. Sikap keras adalah sikap tercela, Alloh berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allohlah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imron: 159)

Huruf (ما) pada firmannya (فبما) adalah shilah (penghubung) dan shilah mengandung makna penegasan yang berfungsi menggantika kalimat yang diulang, Jika demikian, dengan sebab apa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersikap lembut kepada mereka? jawabnya dengan sebab kasih sayang Alloh.

Suatu ketika Harun ar-Rasyid rohimahulloh melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Lalu ada seseorang yang mengenalnya dan berkata, “aku ingin berbicara keras denganmu, aku adalah pemberi nasihat kepadamu…”, maka Harun ar-Rasyid berkata “Wahai Fulan Aku tidak mau mendengar perkataanmu. Sesungguhnya aku tidaklah lebih buruk daripada Fir’aun dan engkau tidaklah lebih baik dari Nabi Musa ‘alaihi salam. Sedangkan Alloh telah memerintahkan Musa untuk berkata kepada Fir’aun dengan perkataan yang lembut.”

Jika demikian, maka pada awal dakwah harus ada lemah lembut dan penuh kasih sayang. Jika diketahui ternyata orang tersebut berpaling, tidak suka kepada kebaikan, berbuat buruk kepada islam, mengejek ayat-ayat Alloh maka tidak ada kebaikan bagi orang tersebut, Al Wala wal Bara mewajibkan kita untuk menjauhi orang tersebut.

Karena itu Nabi Musa ‘alaihi salam mengatakan perkataan yang lemah lembut kepada Fir’aun pada awal dakwahnya, beliau berkata kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, akan tetapi ketika tampak kedurhakaan Fir’aun beliau berkata :

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لأظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Dan Sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS Al Isra: 102)

Maka dalam ayat ini tampaklah sikap keras dan tegas Nabi Musa, akan tetapi bukan pada masa awal-awal dakwah.

Masalah ini aku sebutkan berulang kali karena banyak di antara kita yang menyepelekannya. Seseorang menyeru, memerintahkan, melarang, akan tetapi tidak meminta kepada Alloh dalam kesendiriannya supaya objek dakwahnya mendapat petunjuk dari-Nya. Jika ada seseorang datang mengadukan masalah anak dan keadaannya, atau seseorang ayah datang mengadukan permasalahan anaknya yang menyia-nyiakannya, yang berbuat dosa dan maksiat, kemudian si dai memerintah dan melarangnya dengan keras maka perbuatan tersebut tidaklah membuka pintu-pintu kasih sayang, tidak pula pintu-pintu hati menerima hidayah darinya dan mengambil manfaat dari perkataannya. Maka sikap kasih sayang dan lemah lembut ini harus senantiasa ada dalam berdakwah dan janganlah lupa untuk senantiasa meminta kepada Alloh shalallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi petunjuk kepada orang tersebut.

Ada salah seorang yang mendapat hidayah dan istiqomah karena perkataan yang lembut, kasih sayang dan rahmah berkata: “Suatu saat ada seseorang dari masjid menasihati kami sedangkan kami sedang duduk-duduk berkumpul. Ia menasihati kami untuk melaksanakan sholat dengan perkataan yang bagus lagi indah, akan tetapi mereka semua malah mengejeknya kecuali aku dan sahabatku. Mereka menghina dan mengolok-oloknya akan tetapi ia tidak melakukan apapun selain mengulang-ulang perkataannya. Seandainya ia menyeru untuk dirinya sendiri tentunya ia akan marah ketika diejek dan diolok-olok dan ia akan berusaha membela dirinya sendiri. Akan tetapi ia menyeru kepada siapa? ia menyeru kepada Alloh ‘azza wa jalla sehingga ia bersabar dan mengharap pahala dari amalnya. Mereka terus mengejeknya namun ia tetap sabar mendakwahi kami dengan perkataannya yang lemah lembut, kemudian pergi. Aku dan sahabatku kemudian menemuinya dan memohon maaf serta mengatakan kepadanya bahwa mereka memang tidak dididik untuk beradab dan berakhlak baik. Maka ia pun berkata kepada kami, “Apa kalian mengira bahwa aku terpengaruh atau meresa sedih atau menjadi sempit dadaku karena ejekan-ejekan mereka? sama sekali tidak… karena tidaklah aku berdakwah kecuali untuk mendapat pahala dari Alloh subhanahu wa ta’ala, ketika aku diam aku mengharapkan pahala, begitu juga ketika aku berbicara dan memaafkan maka aku pun mengharap pahala, lalu kenapa aku harus bersedih?”

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“…Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS An Nahl: 127)

Perkataan tersebut sangat menyentuh hatiku lebih daripada ketika melihatnya bersabar ketika menasihati kami.”

Yang menceritakan hal tersebut kepada kami adalah salah seorang jamaah masjid setelah sebelumnya tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah. Maka inilah hasil dari kasih sayang, kelembutan, maka harus ada kasih sayang dalam dakwah. Bagaimana engkau ingin memberi manfaat kepada manusia? apakah engkau ingin memberikan manfaat kepadanya dengan sikap keras? sama sekali tidak… Anakmu sendiri yang tinggal di rumahmu dan keluar dari tulang sulbimu dan engkau bimbing, jika engkau bersikap keras kepadanya apakah ia akan senang? maka apalagi jika orang lain yang disikapi seperti itu?

(Sumber: Muslim or id)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: