jump to navigation

Bagaimana Amar Mar’uf Nahi Munkar? (Bag 1) November 4, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
trackback

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Diterjemahkan dari transkrip ceramah beliau yang berjudul Ahkamul Amri bil Ma’ruf wa Nahyi ‘anil Munkar oleh: Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi) dan Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust. Aris Munandar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa baraakaatuh
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداهم إلى يوم الدين

Sesungguhnya segala puji-pujian hanya milik Alloh, kami memujinya, memohon pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, serta memohon taubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi hidayah oleh Alloh maka niscaya tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya niscaya tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Kami memohon kepada Alloh yang Maha Agung lagi Maha Tinggi untuk menyinari pandangan-pandangan kami dengan tauhid, untuk menegakkan hati-hati kami di atas agama-Nya, untuk memberikan kenikmatan kepada kami dengan keistiqomahan, dan untuk melindungi kami dari ketergelinciran dan kesalahan dalam perkataan dan perbuatan. Kami berlindung kepada-Nya dari fitnah (ujian) dalam perkataan sebagaimana kami berlindung kepada-Nya dari fitnah dalam amalan, keduanya merupakan ujian yang keburukannya sangat besar.

Pentingnya Dakwah Kepada Alloh Dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Sesungguhnya pemahaman tentang dakwah kepada Alloh, pemahaman tentang amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuatu yang urgen. Kecintaan seseorang kepada kebaikan akan mendorongnya untuk melakukan setiap kebaikan yang ia anggap kebaikan dan melarang dari kemungkaran yang ia anggap kemungkaran. Sebagian orang meremehkan hal ini, yakni mereka yang mengetahui akan tetapi diam, mereka yang paham akan tetapi tidak bergerak, mereka mengerti maksud Alloh dan maksud Rasul-Nya akan tetapi mereka puas dengan kehidupan dunia daripada akhirat. Adapun para Salafush shalih Ridwanullahi Ajmaiin mereka dahulu kala juga berada di antara dua kelompok ini, seorang yang berilmu berbicara dengan ilmunya dan menegakkan hak ilmu yang Alloh memberikan nikmat dengannya, orang jahil tidak berbicara kecuali dengan ilmu yang diketahuinya dari perkara-perkara yang bersifat wajib yang tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak mengetahuinya.

Begitulah keadaan manusia terdahulu, kemudian berubahlah masa, perkara ini diremehkan, dakwah menjadi remeh dan diremehkan pula perkara amar ma’ruf nahi munkar dari dua golongan ini kecuali mereka yang dirahmati oleh Tuhan-Nya dan mereka amat sedikit. Mereka itulah orang-orang yang senantiasa kita minta kepada Alloh di waktu pagi dan petang untuk meneguhkan langkah mereka, untuk menolong mereka dan menegakkan mereka sesuai keinginan-Nya dan untuk memberi taufik kepada mereka untuk melakukan setiap kebaikan.

Tidak ada keraguan bahwa pemahaman tentang dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan nasihat mempunyai adab-adab dan syarat-syarat. Maka siapa pun yang ingin menempuh jalan ini harus mempelajarinya, mempelajarinya dari ulama, dari para penuntut ilmu, atau dari orang yang menukil dari ulama. Perkara ini, yakni dakwah kepada Alloh, dakwah kepada kebaikan, nasihat, amar ma’ruf nahi munkar memiliki lafadz dengan makna yang berdekatan. Jika dikatakan dai kepada Alloh subhanahu wa ta’ala maka maknanya adalah dai yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Makna lainnya adalah senantiasa menasihati untuk Alloh, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kepada umat secara keseluruhan. Lafadz-lafadz ini mempunyai kedekatan makna, jika kita berbicara tentang dakwah kepada Alloh, adab-adab dakwah, syarat-syarat dakwah maka maksudnya juga perkataan kita tentang amar ma’ruf nahi munkar.

Dakwah merupakan sarana untuk memperluas wilayah islam, memperluas wilayah kaum muslimin dan memperbanyak jumlah mereka, jika dakwah dilaksanakan maka bertambah banyaklah kaum muslimin, menambah keteguhan mereka dalam kebaikan, menolak keburukan menuju petunjuk dan mengislamkan orang-orang yang sebelumnya tidak beriman. Karena itulah dakwah merupakan perkara yang penting untuk mencapai tujuan. Dakwah membuat seluruh manusia menjadi baik dan dengan dakwah bertambah luaslah wilayah dan jumlah kaum muslimin.

Amar ma’ruf nahi munkar seakan-akan seperti bagi orang-orang mukmin. Dakwah seperti penjaga bagi orang-orang mukmin dari para perusak, kaum-kaum yang melampaui batas dan dari syaitan dan pengikut-pengikutnya. Tidak diragukan lagi bahwasanya Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan syaitan sebagai cobaan dan musuh bagi kita, tidak ada jalan untuk menjaga dari godaan syaitan dan jerat-jeratnya kecuali dengan amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan amalan yang menjaga harta, menjaga diri dari ketergelinciran, dari keterpurukan atau dari kemurtadan. Apabila dakwah tidak ditegakkan maka kekuasaan islam tidak akan meluas, apabila amar ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan maka akan tenggelamlah negeri kaum muslimin. Hati-hati mereka hilang diambil oleh pencuri dan pergi ke mana saja sesuai ajakan penyeru kesesatan. Hal ini tampak jelas jika engkau memperhatikan dan mendengarkannya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perintah Alloh ketika Ia berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imron: 104)

Nabi melaksanakan perintah tersebut dengan menyeru kepada agama Alloh, menyeru sahabat-sahabatnya, memerintahkan perkara ma’ruf, melarang perkara munkar. Karena usaha beliau ini maka wilayah islam menjadi luas, orang-orang mukmin menjadi kuat, kesesatan menjadi sedikit, kerusakan berkurang, kekuasaan setan dan pengikut-pengikutnya menjadi lemah dari hati-hati kaum mukminin. Hal ini karena jika mereka bersepakat melakukan amar ma’ruf nahi munkar maka akan ada petunjuk dan kebaikan.

Para salafush shalih mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, sehingga dengannya umat ini menjadi kuat dan orang-orang mukmin selalu mendapat petunjuk, kebenaran menjadi teguh hingga kita bisa wariskan kepada generasi setelahnya. Pada zaman sebelumnya ketika syirik tampak dan menyebar di mana-mana, ketika kerusakan tampak dan sedikitnya orang-orang yang menjaga sholat, sedikitnya orang-orang yang menunaikan zakat, menyebarnya setiap kemungkaran dalam negeri maka Alloh menguatkan negeri ini (Saudi Arabia) dengan dai yang memperbaiki semuanya yakni Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh ta’ala. Beliau mengikuti jejak Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara ini, beliau memahami ayat-ayat dan hadits-hadits sehingga dakwah menjadi tegak dan masuklah masyarakat yang tidak terhitung jumlahnya pada dakwah tauhid. Beliau menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan jihad yang paling tinggi, menegakkan jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan musuh (orang-orang kafir), juga jihad melawan syaitan yang masuk ke barisan kaum muslimin. Kemudian bangkitlah manusia-manusia khusus untuk berdakwah bersama beliau, mereka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar agar perkara ini (Tauhid) menjadi kuat, islam menjadi tinggi dan buahnya lebih mahal dan manis. Karena amar ma’ruf agama ini menjadi kuat dan kami meminta kepada Alloh ‘azza wa jalla agar senantiasa menjadikannya perkasa.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tidaklah Khusus Untuk Kelompok Tertentu
Tidaklah pengkhususan suatu kelompok untuk perkara ini berarti bahwa amar ma’ruf nahi munkar khusus oleh beberapa kelompok saja. Bahkan setiap muslim wajib menunaikannya, berdakwah kepada kebaikan, memerintah perkara ma’ruf, melarang perkara munkar walaupun dengan ala kadarnya. Berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar adalah perkara wajib bagi setiap orang. Wajib bagi setiap orang untuk berdakwah kepada dirinya sendiri yakni memerintahkan dan melarang dirinya, orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya dan juga kepada orang-orang yang bisa diharapkan kebaikannya. Maka pengkhususan suatu kelompok untuk perkara amar ma’ruf nahi munkar tidaklah berarti manusia terbebas dari kewajiban ini atau melepaskan manusia dari keutamaan menegakkan perkara ini.

Seseorang bertanya: Kalau dakwah ini dituntut dari kami secara keseluruhan, maka apakah dakwah tersebut juga dituntut dari kami walau tanpa adab dan tanpa syarat-syarat yang merupakan kewajiban penegak dakwah dan penegak amar ma’ruf nahi munkar? Tidak ragu lagi bahwa syariat ini mengajarkan keadaan manusia, mengajarkan kemampuan mereka, dan menjelaskan perkara-perkara mereka. Syariat tidak meninggalkan mereka berbuat semata-mata berdasar akal atau semata-mata berdasar perasaan mereka. Seandainya akal-akal manusia menjadi hukum dalam pelaksanaan syariat atau menjadikan nafsu-nafsu atau perasaan sebagai patokan hukum tentunya perkara ini akan kacau dan agama akan sia-sia. Akan tetapi syariat telah mengatur dan telah menjadikan pendakwah amar ma’ruf nahi munkar memiliki adab-adab yang mesti dipelajarinya. Kami akan sebutkan adab-adab tersebut semoga bisa bermanfaat bagi orang yang mendengarnya. Kami meminta kepada Alloh untuk memberi manfaatnya bagi penulis begitu juga bagi pendengarnya dan juga bagi orang yang menyampaikannya dan yang disampaikan.

Adab-Adab (Tata Krama) Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Adab Ke-1: Ikhlas

Adab dan syarat yang paling penting adalah Ikhlas, ikhlas ini merupakan perkara yang berat, ikhlas merupakan poros agama, bahkan agama ini seluruhnya dibangun di atas ikhlas, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

(وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ) (البينة:5)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS Al Bayyinah: 5), dan juga firman-Nya :

(قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّينَ) (الزمر:11)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama” (QS Az Zumar: 11), dan FirmanNya :

(قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي) (الزمر:14)

Katakanlah: “Hanya Alloh saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (QS Az Zumar: 14)

Ad-Din (agama) adalah semua hal yang Alloh perintahkan. Semua hal yang Alloh perintahkan termasuk dalam agama. Termasuk perkara yang Alloh perintahkan adalah :

(وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ) (الحج : 67 والقصص: 87)

“Dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu” (QS Al Qoshosh: 87 , Al Hajj: 67), dan firman-Nya:

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّك) (النحل: 125)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu” (QS An Nahl: 125)

Maka dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar termasuk dalam agama sehingga pelaksanannya harus disertai dengan ikhlas. Ikhlas adalah bermaksud karena Alloh dalam setiap perbuatannya, bukan karena tujuan riya (supaya dilihat manusia), tidak bermaksud untuk jadi penguasa, tidak bermaksud untuk mengalahkan seseorang yang mempunyai kekuatan dan seterusnya, akan tetapi tujuan perbuatannya adalah Alloh ‘azza wa jalla… Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

فلواحد كن واحدا في واحد أعني طريق الحق والإيمان

“Karena Alloh Yang Esa maka esakanlah maksudmu dalam satu jalan, yakni dalam jalan kebenaran dan keimanan.”

Maksud syair ini sebagaimana Engkau adalah esa, karena itu aku esakan-Mu dalam setiap ibadah dan setiap perbuatanku. فلواحد adalah Alloh كن واحدا في واحد yakni dalam jalan yang satu, yaitu jalan Al-Musthofa, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya.

Al-Ikhlas yakni engkau mengharap ridho Alloh dalam setiap dakwahmu, sebagaimana Alloh berfirman :

(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي) (يوسف:108)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha suci Alloh, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf: 108)

Dalam firman-Nya: (أَدْعُو إِلَى اللهِ) menunjukkan peringatan untuk ikhlas sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh dalam Kitab Tauhid. Dalam firmannya, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku” terkandung peringatan untuk ikhlas karena kebanyakan manusia walaupun secara penampilan berdakwah kepada Alloh ‘azza wa jalla akan tetapi ternyata ia menyeru kepada dirinya sendiri, atau menyeru kepada kelompok atau menyeru kepada partai atau menyeru kepada jamaah tertentu. Jika seseorang menyeru kepada dirinya sendiri, maka hilanglah ikhlas dari dirinya, maka bagaimana lagi jika semata-mata menyeru untuk dirinya?, ia berdakwah agar perkataannya didahulukan daripada yang lain. Terkadang menyeru kepada partainya dan maksudnya agar memperbanyak jumlah pengikut partainya atau memperbanyak pengikut jamaahnya. Maka semua tujuan ini menghilangkan ikhlas dari dai tersebut. Ia dakwahi orang yang menyepelekan hal ma’ruf dengan tujuan supaya orang itu mengetahui bahwa ia lebih tahu dan lebih paham darinya.

Maka ikhlas perlu dilatih dan setiap orang hendaknya mengevaluasi dirinya sendiri. Barang siapa meninggalkan perkara ini dalam dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, sehingga memberi nasihat tanpa ikhlas, tanpa meminta kepada Alloh dengan hatinya bahwasanya tidaklah ia berdakwah kecuali karena Alloh, sambil mengingat firman-Nya: قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّه, bukan kepada selainnya, berdakwah karena Alloh bukan karena selain-Nya.

Jika engkau berdakwah karena Alloh dan juga berdakwah kepada golongan atau kepada dirimu atau karena ingin diutamakan maka sungguh engkau telah menipu jiwanya sendiri. Kami akan membuat permisalan untuk menjelaskan dampak ikhlas dalam amal, dampak ikhlas dalam dakwah, dampak ikhlas dalam amar ma’ruf nahi munkar yang di antaranya adalah berdoa untuk objek dakwahnya, berdoa ketika berdakwah amar ma’ruf nahi munkar supaya orang tersebut mau menerima dakwah kita. Apakah di sana ada sesuatu yang lebih besar dari syirik? Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan sabdanya :
(اللهم أعز الإسلام بأحد العمرين) “Ya Alloh kuatkanlah islam dengan salah satu dari dua perkara.”

Yakni Abu Jahl dan Umar bin Khattab rodhiallohu ‘anhu. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Alloh untuk kedua orang tersebut, untuk dua orang musyrik tersebut agar Alloh memberi hidayah kepada salah satu dari keduanya atau untuk memberi hidayah kepada mereka berdua, padahal kenyataan menunjukkan bahwa mereka menampakkan permusuhan, pengrusakan, menyusahkan terhadap sebagian mukminah di Mekkah. Walaupun begitu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdoa untuk mereka (sehingga karena doa tersebut Alloh memberikan hidayah kepada Umar bin Khattab). Dampak ikhlas merupakan dampak dari kecintaanmu yang besar bagi objek dakwahmu supaya mendapat hidayah, karena hati itu di tangan Alloh. Maka dengan cara ini engkau telah membuka pintu-pintu diterimanya hidayah. Maka bukalah pintu-pintu bagi manusia untuk dapat membuka hatinya (dengan kebenaran islam).

Sebagaimana disebutkan dalam korespondensi antara imam dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan seorang ulama yang mencurahkan hidupnya untuk dakwah yakni Abdullah bin Abdul Lathif Al-Ahsa rohimahulloh, seorang ulama Ahsa. Ia menulis sebuah surat untuk Syaikh, sebenarnya antara beliau dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebelumnya telah banyak berhubungan dengan surat-menyurat. Pada surat tersebut beliau mengadukan tipu daya yang dilakukan orang-orang pada dakwah tauhid dan para pembelanya. Maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membalas surat tersebut, dan di antara isinya adalah, “Demi Alloh sungguh aku berdoa untukmu dalam sholatku dan aku meminta kepada Alloh agar menjadikanmu sebagai pemisah (antara kebenaran dan keburukan) bagi agama Alloh di akhir zaman ini”.

Ada kalanya adab itu berupa syarat dan syarat di antaranya bisa berupa adab, maka karena itu kami gabungkan kedua hal tersebut, kemudian akan datang penjelasan syarat-syarat rincinya.

Adab Ke-2: Ilmu
Ilmu adalah perhiasan manusia. Orang bodoh adalah orang yang mati adapun seorang yang berilmu adalah orang yang hidup. Kami tidak mengatakan bahwa hanya ulama sajalah yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, karena kalau seperti itu maka tentunya akan sedikit sekali orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, sehingga perkara ini akan diremehkan. Bahkan kita semua diperintahkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar, tetapi tentunya disertai dengan ilmu, ilmu yang kita diperintahkan untuk berbicara dengannya, ilmu yang Alloh memujinya dengan Firman-Nya : “Katakan apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” dan juga Alloh memuji kepada pemilik-Nya dengan mengatakan : “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”.

Para ulama mengatakan bahwasanya ilmu terbagi dua:

Pertama, ilmu wajib yang tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak mengetahuinya
Setiap manusia dituntut untuk menuntut ilmu ini, karena ilmu ini menyebabkan sahnya islam seseorang, yakni ilmu tentang tauhid, ilmu tentang makna dua kalimat syahadat, makna kalimat tauhid, makna mengesakan Alloh. Juga ilmu tentang rukun islam. Begitu pula ilmu tentang perkara-perkara haram yang tidak pantas bagi seorang muslim untuk tidak mengetahuinya, seperti keharaman khamr, keharaman zina, keharaman riba, keharaman memutus ikatan kekerabatan dan perkara-perkara lain yang disepakati keharamannya. Menyambung hubungan kekerabatan, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perkara yang diperintahkan dalam agama, perkara-perkara ini tidaklah dimaafkan jika seseorang tidak mengetahuinya. Begitu pula wajib bagi tiap orang untuk mengetahui bahwa sholat, zakat, puasa, haji adalah wajib karena ilmu ini tidak ada alasan bagi seorang pun untuk tidak mengetahuinya. Maka seluruh kaum muslimin jika mereka bodoh terhadap perkara-perkara ini maka mereka belum menjadi orang muslim karena jahil kepada perkara tersebut merupakan pembatal keislaman. Di antara sepuluh pembatal keislaman adalah berpaling dari agama Alloh, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau beramal dengannya. Maka orang yang tidak mau mempelajari agama Alloh -yakni ilmu agama Alloh yang membuat sah islam seseorang-, tidak beramal dengannya maka ia tidak termasuk orang muslim walaupun ia hidup di antara orang-orang muslim.

Jenis kedua dari ilmu adalah ilmu yang fardhu kifayah
Yakni ilmu tentang perkara yang rinci, ilmu tentang masalah-masalah yang bukan merupakan perkara pokok syariat. Ilmu ini berbeda-beda kewajibannya untuk setiap orang, seorang ulama merupakan orang yang menguasai ilmu ini dengan sempurna, adapun thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) tidak mengetahui hal tersebut secara sempurna.

Karena ilmu tersebut terbagi menjadi dua maka sepantasnya bagi seorang dai untuk memiliki ilmu sesuai dengan kadar kemampuannya. Jika ia bukan seorang ulama maka ia berdakwah sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Ia mendakwahkan makna tauhid, mendakwahi manusia untuk memahami makna dua kalimat syahadat, mengajari mereka tentang perkara sholat, menganjurkan mereka untuk melakukan sholat, memerintahkan mereka, mengajarkan masyarakat untuk senantiasa membaca Al Quran dan menganjurkan (memberi semangat) kepada mereka. Perkara-perkara tersebut adalah perkara penting yang tidak ada perselisihan di dalamnya dari sisi asal kewajibannya. Maka tidak boleh ada pembatasan kewajiban dakwah dalam masalah-masalah ini. Bahkan wajib untuk bersatu untuk mendakwahkan agama ini, bersatu untuk menyeru manusia menuju agama Alloh sesuai dengan kadar keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing.

Jangan sampai didapatkan seorang muslim yang jika ditanya: Apakah khamr haram? kemudian ia mengatakan “saya tidak mengetahui apakah khamr itu haram atau tidak”. Maka perkara ini sangat tidak mungkin bagi seorang muslim untuk tidak mengetahuinya. Sama juga seperti memutus hubungan kerabat apakah mungkin seorang muslim ketika ditanya apakah hukum memutus hubungan kekerabatan kemudian dia menjawab “boleh” atau “saya tidak tahu”, tidak mungkin! Perkara ini adalah perkara yang wajib bagi seseorang muslim untuk mengetahuinya. Alloh subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan bahkan perintah ini sudah turun sejak Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di Mekkah, jadi perkara ini adalah perkara umum yang tidak dimaafkan bagi muslim untuk tidak mengetahuinya maka kewajiban para dai, untuk mendakwahkannya.

Adapun jika datang perkara lain kepadamu maka semestinya engkau memahami perkara tersebut. Apakah engkau mempunyai ilmu tentang perkara tersebut atau tidak, jika engkau mempunyai ilmu maka berbicaralah adapun jika engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya maka janganlah engkau berbicara. Jangan engkau melarang sesuatu sedangkan engkau tidak mempunyai dalil yang menerangkan keharamannya sehingga boleh jadi larangan itu tidak pada tempatnya. Jika setiap orang memerintahkan dan melarang perkara yang menurutnya baik tanpa dalil, tentu rusaklah syariat.

Maka jika telah jelas batasan bagi kaum muslimin secara umum dan batasan bagi orang-orang terpelajar maka sepantasnya bagi kaum muslimin untuk senantiasa menuntut ilmu, dan wajib bagimu untuk senantiasa belajar. Ilmu merupakan cahaya dalam dada. Ibnul Qayyim berkata dalam “Qosidah Lamiyah” nya yang terkenal :

اطلب العلم وحصله فما أبـعد الخير على أهل الكسل
واحتفل للفقه في الدين ولا تشتـغل عنه بـمال وخول
واهجر النوم وحصله فمن يعرف المقصود يحـقر ما بذل
لا تقل قد ذهبت أربابـه كل من سار على الدرب وصل


Tuntutlah ilmu dan gapailah
Betapa jauhnya kebaikan dari orang malas
Berjuanglah dalam memahami agama
Jangan menyibukkan diri dengan harta dan pelayan
Jauhilah banyak tidur dan penyebabnya
Barang siapa yang mengerti keutamaan tujuan maka ia akan meremehkan usaha untuk mendapatkannya
Jangan katakan telah berlalu masanya
Karena siapa yang menempuh jalan yang benar pasti berhasil

Barang siapa yang ingin mencari petunjuk maka harus mempelajari adab kedua ini. Petunjuk (adab) ini mempunyai hasil yang baik bagi kehidupan kita. Hendaklah seseorang menyeru dengan sesuatu yang bisa membawa dampak baik bagi orang yang diseru. Misalnya mendatangi seseorang yang diharapkan kebaikan darinya, menyerunya untuk melakukan kebaikan sesuai ilmu yang dimiliknya sehingga orang tersebut bisa berubah menuju keadaan yang lebih baik. Contoh lain adalah menyeru orang yang meninggalkan sholat, tidak menghadiri sholat berjamaah di masjid dan orang tersebut masih musbil (Menjulurkan pakaian hingga melebihi mata kaki. –pent) atau masih memotong jenggotnya dan kemungkaran lainnya, maka apa sebaiknya yang didakwahkan terlebih dahulu? tentunya mendakwahkan sholat terlebih dahulu. Siapakah yang memahami masalah ini? tentunya orang berilmu yang senantiasa mencari petunjuk bersama ulama. Jika engkau tidak mengetahui perkara lain maka berbicaralah dengan ilmu yang kau ketahui tentang sholat misalnya. Jika kita berdakwah kepada manusia untuk melakukan sholat sehingga masyarakat melakukannya dengan baik, maka sungguh kita akan menjadi manusia yang baik dan mendapat kecintaan manusia.

–bersambung, insya Alloh–

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: