jump to navigation

Bagaimana ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Bag. 3) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
trackback

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh:
Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust Aris Munandar

 

Adab Ke-5: Al Hikmah
Adab selanjutnya adalah Al Hikmah. Alloh Jalla wa ‘Ala berfirman:

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Alloh menganugerahkan Al Hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS Al Baqoroh: 269)

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An Nahl: 125)

Al Hikmah merupakan tuntutan dalam dakwah, akan tetapi apakah yang disebut Al Hikmah? Sebagian manusia tidak mengetahui makna Al Hikmah. Al Hikmah adalah menempatkan sebuah perkara sesuai dengan kedudukannya. Beramar ma’ruf pada saat yang tepat dan ketika dibutuhkan, mencegah kemungkaran pada saat yang tepat dan berdakwah pada saat yang tepat, demikianlah makna hikmah. Oleh karena itu wajib bagi seorang da’i untuk menjadi orang yang penuh Hikmah. Bagaimana seseorang disebut sebagai seorang yang penuh Hikmah dalam dakwah?

  1. Memahami dan mengetahui langkah-langkah dalam dakwah.
  2. Memahami dan mengetahui jenis objek dakwah.
  3. Memahami dan mengetahui posisi perintah dan larangan yang hendak disampaikan.
  4. Memahami dan mengetahui permasalahan maslahat dan bahaya.

Jika seorang dai dapat bersikap penuh hikmah, niscaya dakwahnya akan menghasilkan manfaat yang nyata. Sebaliknya jika seorang da’i tidak memiliki sikap Hikmah, maka dakwahnya tidak akan membuahkan kesuksesan sebanding sikap Hikmah yang dia tinggalkan.

Perkara yang pertama, hendaklah seorang da’i mengetahui tahapan-tahapan dakwah. Tahapan-tahapan dakwah ini telah dijelaskan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disepakati kesahihannya dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman berkata: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok Ahli kitab, maka hendaklah engkau jadikan perkara pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka menauhidkan Alloh (dalam riwayat lain agar mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh). Jika mereka memenuhi seruanmu itu, maka beritahukanlah pada mereka bahwa Alloh mewajibkan mereka untuk menegakkan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka memenuhi seruanmu itu,maka beritahukanlah mereka bahwa Alloh mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan pada orang-orang miskin…” (Al Hadits). Hadits ini menerangkan tentang tahapan-tahapan dakwah. Sudah seharusnya seorang dai bersikap penuh Hikmah dan mengetahui tahapan-tahapan dakwah ini.

Ada seseorang yang datang mengatakan, “Aku memiliki seorang teman yang hendak masuk Islam.” Alhamdulillah, ini adalah sebuah berita yang sangat baik, sebuah berita yang menyenangkan jiwa. Maka apa yang hendak engkau ajarkan pada orang yang baru masuk Islam tadi wahai saudaraku? Kemudian dia menjawab, “Aku akan mengajarkannya tata cara sholat.”

Subhanalloh!!, bukankah dia seorang Nasrani, Majusi, Hindu atau selainnya? Anda ajarkan dia sholat? Mana pengajaran tentang Tauhid!? Hal seperti ini sangat banyak terjadi. Jika ada seseorang yang hendak masuk Islam, mereka mengajarkannya sholat. Orang tersebut berkata, “Aku ingin masuk Islam”, kemudian dia diajari sholat kemudian dikatakan pada orang tersebut, “Jangan berbuat begini dan begitu, lakukanlah ini dan itu!!” Adapun tentang tauhid, maka tidak dijelaskan pada orang yang baru masuk Islam ini. Padahal tauhid adalah pokok agama. Tidak dijelaskan padanya tentang keimanan pada Alloh dan wajibnya kufur pada Thoghut padahal hal tersebut adalah perkara agama. Jika demikian, orang seperti ini tidak memiliki Hikmah dalam dakwah. Dia tidak mengetahui tahapan dakwah. Hal pertama yang harus didakwahkan adalah masalah tauhid, masalah ikhlas kepada Alloh, Anda jelaskan kepada objek dakwah anda tentang hak Alloh yang harus dipenuhi. Karena sesungguhnya jika seorang hamba mengetahui hak-hak Alloh maka dia akan senantiasa istiqomah.

Dahulu ada seseorang yang masuk Islam dan ia berhak untuk masuk surga dengan satu ucapan Laa ilaha illalloh muhammad rosululloh. Dia masuk surga padahal belum pernah sholat satu rakaat pun. Karena dia mengucapkan kalimat Laa ilaha illalloh muhammad rosululloh kemudian dia terbunuh dalam peperangan sebelum datang waktu sholat sehingga dia bisa sholat. Oleh karena itu, Tauhid adalah perkara yang paling agung. Hadits tentang pengiriman Mu’adz ke Yaman adalah dalil yang sangat jelas tentang hal tersebut. Maka hendaklah Anda memperhatikannya.

Jika ada seseorang yang tidak menunaikan zakat, kemudian Anda datang kepadanya dan Anda berkata, “bersedekahlah kepada orang ini, sedekah adalah sebuah kebaikan” sedangkan dia tidak mau membayar zakat. Bagaimana mungkin Anda memerintahkannya untuk bersedekah? Maka hendaknya Anda mengajarkan zakat terlebih dahulu, yang merupakan salah satu kewajiban dari Alloh.

Demikian juga, jika ada seseorang yang tidak menunaikan sholat di masjid. Dia tidak sholat di masjid dan tidak terlihat di masjid kecuali hari Jumat atau bahkan sama sekali tidak sholat di masjid. Kemudian Anda datang kepadanya dan Anda menyampaikan padanya tentang urgensi sholat witir dan qiyamullail, ini bukanlah sebuah perkataan yang tepat.

Atau jika ada seseorang yang tidak pernah membaca Al Quran sama sekali atau hanya membacanya pada bulan Ramadhan kemudian Anda katakan padanya bahwa ia harus membaca Al Quran satu juz per hari dan ia harus khatam setiap bulan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi??? Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi Anda untuk mengetahui tahapan dakwah. Anda mengajak orang lain sedikit demi sedikit menuju kebaikan.

Ibnu Qoyyim telah memberikan sebuah contoh tentang hal ini pada kitabnya yang berjudul Ma’alimul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin atau yang lebih terkenal dengan judul I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin. Beliau berkata, “Jika Anda mendatangi beberapa orang dan Anda mendapati mereka sedang bermain catur (ini adalah perkataan Ibnu Qoyyim) dan Anda ingin melarang mereka dari hal ini dan dengan larangan anda tersebut mereka bisa berpindah kepada yang lebih baik dari pada main catur, membawa mereka kepada majelis kebaikan dan majelis tempat mengingat Alloh, mereka berpindah kepada perkumpulan yang penuh berkah atau kepada nasihat dan saling silaturrahim maka ini adalah kebaikan. Merupakan sebuah hikmah dan kebaikan jika Anda melarang mereka dan memerintahkan mereka untuk berbuat yang lebih utama. Adapun jika Anda mendatanginya sedangkan mereka adalah para pemuda yang masih bergejolak jiwanya, dan terdapat keburukan dan kefasikan dalam jiwanya kemudian Anda melarangnya bermain catur namun membuat mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai kehormatan kaum muslimin, maka larangan Anda kepada mereka untuk bermain catur lebih wajib untuk dilarang karena tidak dilandasi dengan hikmah”.

Anda menginginkan perbaikan dan kebaikan, maka sudah seharusnya Anda membawa mereka yang bermain catur tadi pada kondisi yang lebih baik. Jika Anda tidak mampu untuk membawa mereka kepada kondisi yang lebih baik atau jika larangan dan perintah Anda kepadanya akan menjadikan keadaannya lebih buruk maka selayaknya Anda diam sampai ada orang yang dapat memperbaiki dan membawa mereka menjadi lebih baik atau anda bisa mempelajari strategi untuk memindahkan mereka dari keburukan tersebut dengan penuh kelemahlembutan. Oleh karena itu sudah seharusnya Anda mengetahui tahapan-tahapan dakwah.

Perkara yang kedua, hendaknya seorang da’i memahami dan mengenal kedudukan objek dakwahnya. Kedudukan manusia bertingkat-tingkat, bukankah demikian? Di antara mereka adalah pemimpin, pemerintah, hakim dan lain sebagainya. Apakah Anda hendak berbicara dengan mereka seperti Anda berbicara kepada anak-anak Anda atau kepada anak kecil? Kemudian anda mengatakan dengan bangga, “Ini adalah kemuliaan dan kekuatan?” tidak, perbuatan seperti ini tidak berlandaskan hikmah sama sekali.

Anda pasti mengharapkan mendapatkan manfaat, maka jalan apapun yang dapat Anda tempuh maka tempuhlah jalan tersebut. Jalan tersebut bukanlah jika dikatakan pada Anda: Fulan telah berkata demikian dan demikian, fulan memiliki kepribadian yang kuat, fulan memiliki sifat begini dan begitu. Padahal perkataan Anda ini tidak bermanfaat bahkan menambah keburukan dengan keburukan lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini adalah kesalahan. Maka selayaknya bagi dai untuk mengetahui kedudukan/status objek dakwah Anda. Apakah dia orang pemerintahan ataukah seorang ulama kemudian Anda juga harus mengetahui bagaimana berbicara dengan mereka.

Terkadang seorang ulama berbuat suatu kesalahan, kemudian Anda datang dan berkata padanya, “Bertakwalah kepada Alloh!! Pakaian anda begini dan begitu, kenapa Anda menipiskan janggut Anda atau kenapa Anda begini dan begitu??” Anda berkata padanya dengan ungkapan yang buruk. Seorang ulama tidak bisa dinasihati ataupun didakwahi dengan cara seperti ini. Akan tetapi dia didakwahi dengan cara yang baik. Hendaknya Anda mengingatkannya dengan ayat Al Quran dan tafsirnya yang maksudnya dipahami. Jika Alloh mengaruniakan kepadanya istiqomah, maka hal itu adalah nikmat dari Alloh. Jika demikian, Anda tidak bisa memperlakukan seorang alim sebagaimana Anda memperlakukan seorang yang bodoh atau bawahan Anda. Hal ini mengisyaratkan pada suatu hal. Apakah seorang anak kecil diajak kepada kebaikan dengan metode yang sama seperti seorang yang berakal yang sudah dapat memahami dan sudah dibebani oleh syariat? Tidak demikian. Setiap orang sesuai dengan kedudukannya. Oleh karena itu, merupakan sebuah hikmah jika Anda mengenal kedudukan manusia.

Perkara yang ketiga, hendaklah seorang dai yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran mengetahui status perintah dan larangan. (wajib ataukah sunnah ataukah makruh ataukah haram –pent)

Perkara yang keempat, termasuk dari hikmah hendaklah seorang dai yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran mengetahui dan memahami tentang maslahat dan mafsadat. Karena terkadang seseorang memerintahkan kebaikan yang ternyata lebih bermanfaat pada waktu yang lainnya.

Sebagai contoh, jika datang seseorang kemudian dia berkata, “mari kita duduk dan membaca Al Quran”. Tidak disangsikan lagi bahwa membaca Al Quran adalah suatu amalan yang utama. Akan tetapi, di dekat mereka ada yang berbuat kemungkaran sedangkan mereka dalam jumlah yang banyak yang dapat mencegah kemungkaran tersebut, maka manakah yang lebih utama di antara keduanya? Tidak diragukan lagi bahwa waktu membaca Al Quran sangat luang sedangkan di dekat mereka ada sebuah kemungkaran yang nampak maka hendaklah Anda pergi untuk menghilangkan mafsadat kemudian Anda ikut membaca Al Quran.

Demikian juga jika ada seseorang yang berkata, “Saya duduk untuk mengingat Alloh setelah sholat subuh sampai matahari terbit”, padahal keluarganya tertidur dan tidak bangun untuk melaksanakan sholat subuh dan dia tahu bahwa mereka selalu sholat subuh jika matahari mulai terbit. Apakah ini tindakan seorang yang bijaksana atau tidak? Bagaimana mungkin Anda bisa berzikir, membaca Al Quran, bertahlil dan bertasbih sampai matahari terbit padahal di rumah Anda ada orang yang baru sholat subuh jika matahari telah terbit. Ini adalah sebagian contoh tentang perlunya memahami perintah, maka hendaklah Anda perhatikan.

Demikian juga tentang larangan, ada mafsadat dan maslahat yang perlu Anda pertimbangkan yang terkait dengan larangan. Mengingkari sebuah kemungkaran adalah Fardhu Kifayah. Barang siapa yang melihatnya wajib untuk mengingkarinya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga kedudukan orang yang melihat kemungkaran. Pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id Al Khudri beliau bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.”

Akan tetapi terkadang Anda mengingkari sebuah kemungkaran yang ternyata akan menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar dan akan berakibat buruk pada orang lain. Sebagai contoh adalah orang-orang yang membunuh orang yang jelas berbuat murtad di sebagian negeri. Tidak diragukan lagi bahwa membunuh orang yang jelas berbuat murtad adalah boleh. Akan tetapi jika datang sekelompok pemuda yang mengatakan, “Kami akan membunuh orang murtad tadi”. Baik, kalian membunuh mereka satu orang kemudian mereka akan membunuh 100 orang di antara kalian, apakah yang seperti ini diperbolehkan? Tidak, syariat tidak pernah memerintahkan perbuatan seperti itu. Kalian dapat mengingkari kemungkaran tersebut dengan cara membuat selebaran atau kaset-kaset dan tidak perlu disebutkan siapa penulisnya. Hal seperti ini adalah sebuah kemungkaran yang akan menimbulkan kemungkaran lain pada sekelompok orang. Maka perbuatan seperti ini wajib diingkari dan tidak boleh dilakukan. Dan pelakunya berdosa serta tidak mendapatkan balasan pahala.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rohimahulloh pernah menceritakan tentang dirinya –sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya, Ma’alimul Muwaqi’in-, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan bahwa beliau pernah berjumpa dengan orang Tartar yang sedang mabuk-mabukan di jalan umum secara terang-terangan di hadapan banyak orang. Maka sahabat-sahabat beliau berkata, “Mari kita ingkari mereka yang sedang mabuk-mabukan ini, mereka meminum khamar di hadapan kita!!”. Maka Syaikhul Islam berkata, “Wahai saudaraku, biarkanlah mereka. Sesungguhnya Alloh melarang meminum khamar karena dapat melalaikan dari sholat dan mengingat Alloh. Sedangkan, jika mereka meminum khamar akan mencegah mereka untuk menganiaya dan membunuh kaum muslimin”.

Demikianlah sikap penuh hikmah yang dimiliki oleh para ulama, ini adalah pemahaman yang benar karena beliau mempertimbangkan maslahat dan mafsadat yang akan terjadi. Akan tetapi siapakah yang bisa mendapatkan pemahaman seperti ini? Orang yang bisa memiliki pemahaman seperti ini adalah orang yang telah diberikan Hikmah. Alloh berfiman,

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Alloh menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS Al Baqoroh: 269)

Mungkin jika sebagian orang saat ini pada waktu itu berada di sisi Ibnu Taimiyyah mereka akan berkata, “Ibnu Taimiyyah begini dan begitu, mengapa dia mendiamkan mereka, mengapa dia tidak mengingkari orang yang mabuk dengan terang-terangan?”. Tidak, bukan demikian. Beliau meyakini bahwa wajib untuk mengingkari kemungkaran. Akan tetapi jika Anda mengingkari mereka pada saat tersebut, Anda tidak akan menjadikan mereka lebih baik bahkan akan membawa mereka untuk berbuat yang lebih buruk. Bukannya Anda menjadi penyebab perbuatan baik, akan tetapi Anda akan menjadi sebab mereka berbuat yang lebih buruk, maka lebih baik membiarkan mereka pada kondisi sebelumnya (yakni dalam keadaan mabuk, -pent). Demikianlah sebagian pembahasan yang terkait dengan sikap penuh Hikmah.

Adab ke-6: Sabar
Sikap lain yang dibutuhkan oleh seorang dai yang beramar ma’ruf nahi mungkar adalah kesabaran. Alloh Jalla wa ‘Ala telah memerintahkan Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar. Padahal Alloh telah menghiasi beliau dengan akhlak yang mulia, Alloh berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qolam: 4)

Di samping itu Alloh pun berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS An Nahl: 127)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS Al Ahqaaf: 35)

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS Ar Ruum: 60)

Alloh berfirman dan memuji hamba-hambanya yang beriman yang diselamatkan oleh Alloh dari kerugian,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al Ashr: 3)

Seorang dai harus memiliki sifat sabar. Jika ada suatu hal yang menyakiti maka dia bersabar dan mengharapkan seluruh urusannya hanya pada Alloh. Maka hendaknya dia bersabar, dan dia akan diberikan ganjaran atas kesabarannya sebagaimana dia diberi ganjaran atas dakwah yang dia lakukan.

Adab ke-7: Memiliki Kehormatan (‘Izzah) dan Teguh di Atas Kebenaran
Akhlak dan Adab selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang dai setelah bersabar adalah memiliki kehormatan (‘izzah) dan teguh di atas kebenaran. Sifat-sifat yang telah kami sebutkan sebelumnya, bukanlah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang lemah dan tidak memiliki kehormatan sebagaimana persangkaan sebagian orang. Dia menundukkan pandangannya dari segala sesuatu, tidak, bukan demikian. Maka dalam sikap ini dia harus senantiasa meneladani Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Yaitu dia memiliki kehormatan dan teguh di atas kebenaran. Artinya adalah tidak ridho jika ada larangan Alloh yang dilanggar di hadapannya. Dia tidak ridho duduk di sebuah perkumpulan yang di dalamnya berisi maksiat kepada Alloh. Bukan termasuk dakwah dan sikap yang bijaksana dan tidak juga hal baik jika Anda duduk dalam sebuah perkumpulan tersebut kemudian Anda berkata, “Saya ingin mendakwahi mereka”, padahal mereka adalah orang-orang para pencandu kemungkaran. Jika demikian, berarti Anda bersekongkol dengan mereka dalam keburukan, jika Anda tidak mau berpisah dengan perkumpulan tersebut.

Wahai saudara-saudara sekalian, jika Kalian ingin berbuat seperti ini maka tidak ada tempat bagiku untuk mengizinkan kalian (aku tidak berhak memberi izin pada kalian). Alloh telah memerintahkan kita untuk tidak duduk bersama orang-orang yang mengingkari dan mempermainkan ayat-ayat Alloh. Alloh berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِّثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (QS An Nisa: 140)

Para ulama telah mengambil kesimpulan dari ayat ini, bahwa orang yang ridho dengan perbuatan dosa sama dengan orang yang berbuat dosa tersebut walaupun dia tidak melakukannya. Sebagai contoh jika disampaikan pada seseorang bahwa ada temannya yang minum khamar, kemudian orang ini ternyata ridho dengan perbuatan tersebut. Maka orang ini sama dengan peminum khamar tersebut dalam masalah dosanya bukan dalam masalah penegakan hukuman ataupun akibat yang dihasilkan.

Maka dapat disimpulkan bahwasanya wajib bagi seorang dai untuk memiliki sikap yang tegas dalam kebenaran jika dia menghadapi hal-hal yang menjadikannya harus bersikap tegas. Jika perbuatan yang haram telah dilanggar, banyak orang memperolok ayat-ayat Alloh dan sombong di hadapannya, mereka bersikap lancang dengan kebenaran dan menampakkan dengan terang-terangan perbuatan buruk mereka. Maka pada kondisi seperti ini, seorang dai haruslah bersikap tegas untuk menghadapinya. Adapun dalam masalah dakwah, maka hendaknya senantiasa dilakukan dengan lemah lembut. yang dimaksud dengan kekuatan dan kemuliaan bukanlah dengan menyerbu orang-orang yang berbuat kemungkaran tersebut. Namun yang dimaksud dengan kekuatan dan kemuliaan tersebut adalah dengan mencegah mereka dari keburukan dan kemungkaran dan menghilangkan kemungkaran serta mengubahnya jika Anda memiliki kemampuan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: