jump to navigation

Bagaimana ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Bag. 4) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Artikel Islami.
trackback

Penulis: Fadhilatusy Syaikh Sholeh bin Abdul ‘Aziz hafizhohulloh
Dialihbahasakan oleh:
Abu Sa’id Satria Buana (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Abu Fatah Amrulloh (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust Aris Munandar

Adab ke-8: Tidak Mudah Putus Asa

Termasuk adab yang penting bagi seorang dai adalah tidak mudah berputus asa. Misalnya, jika telah menasihati seseorang, kemudian dia berkata, “Saya telah datang untuk menasihati orang tersebut dua kali, tiga kali, empat kali bahkan lima kali, namun sama sekali tidak bermanfaat”. Tidak benar, janganlah Anda berputus asa. Alloh berfirman,

إِنَّهُ لا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87)

Apakah Anda hendak berputus asa dari rahmat Alloh? Tidak Anda tidak boleh berbuat demikian. Alloh telah berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu.” (QS Fathir: 2)

Maka senantiasa kami ulang-ulang, agar kita tidak seperti bani Israel yang berpaling. Mereka telah dicegah dari berbuat kemungkaran kemudian selesai. Kemudian mereka berkata sebagaimana yang Alloh ceritakan,

لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu , dan supaya mereka bertakwa.” (QS Al A’raaf: 164)

Bagaimana mungkin Anda akan menasihati sekelompok orang yang akan ditimpa azab dan keburukan? Tidak demikian. Jika kita seperti orang-orang yang berputus asa dalam dakwah dan hendak menghalangi kita untuk mendakwahi mereka, maka akan tersebarlah keburukan. Walaupun perintah dan larangan kita tidak bermanfaat bagi manusia, kita tidak boleh putus asa. Kita sampaikan dakwah pada mereka sekali, dua kali, tiga kali terus menerus.

Sebagai contoh nabi Nuh ‘alaihi sallam, berapa lama beliau tinggal di tengah kaumnya? Alloh berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS Al Ankabuut: 14)

Selama 950 tahun beliau tinggal di tengah kaumnya!!! Namun berapa jumlah kaumnya yang beriman dengan dakwah beliau?

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS Huud: 40)

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwahnya adalah 70 sekian orang. Namun sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa jumlah orang yang beriman dengan dakwah nabi Nuh pada zamannya adalah 12 orang. Apakah beliau berputus asa? Tidak sama sekali. Karena kewajiban beliau adalah berdakwah dan beliau tidak dituntut untuk melihat hasil dakwah beliau. Alloh berfirman,

وَإِن مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (QS Ar Ra’du: 40)

Kewajiban Anda adalah untuk menyampaikan dakwah, untuk memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْء

“Dan kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka” (QS Al An’aam: 52)

Demikianlah sebagian adab dalam beramar ma’ruf nahi munkar yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini.

Syarat-Syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sampailah kita, untuk membicarakan secara singkat tentang syarat-syarat dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagian syarat-syarat ini sebelumnya telah kita bicarakan ketika menjelaskan tentang adab-adab dalam berdakwah seperti harus dilandasi keikhlasan, ilmu dan dengan penuh hikmah. Janganlah seorang dai melarang suatu hal, namun tidak tahu tentang tahapannya. Maka sudah seharusnya bagi seorang dai untuk mempelajari tentang syarat-syarat ini. Para ulama telah membagi syarat menjadi 2 bagian, syarat sah dan syarat disyariatkannya.

Adapun syarat sah sebagai contohnya adalah ikhlas. Jika seorang dai tidak ikhlas, maka dakwahnya tidak sah di sisi Alloh jalla wa ‘ala. Contoh lainnya adalah ilmu tentang apa yang dia bicarakan, tentang apa yang dia perintah dan dia larang atau dengan kata lain, tentang materi dakwahnya. Apakah Anda akan berbicara tentang suatu masalah, Anda memerintahkan atau melarang orang lain untuk melakukannya sementara Anda tidak mengetahui hukum masalah tersebut? Tidak demikian.

Adapun tentang syarat disyariatkannya (masyru’iyyah) di antaranya adalah kekuatan dan kemampuan. Alloh berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqoroh: 286)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah.” (QS At Taghabun: 16)

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Akan tetapi dalam masalah kekuatan dan kemampuan ini, kita harus mengadakan pembahasan yang lebih dalam. Apa makna kekuatan dan kemampuan? Kapan seseorang dikatakan tidak mampu atau tidak kuat? Perkara yang terkait dengan hal ini adalah pada keluarga Anda. Anda adalah pemimpin mereka dan Anda dapat menghilangkan kemungkaran dengan tangan Anda.
Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang terlihat di dalam rumahnya sebuah perbuatan mungkar berkata, “Demi Alloh, anakku yang kecil…”. Maka tidak ada uzur bagi Anda karena Anda mampu untuk mencegah kemungkaran tersebut, “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya” dan di rumah Anda, Anda memiliki kekuasaan untuk mencegah kemungkaran. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya”.

Akan tetapi jika Anda melihat sebuah kemungkaran di jalanan. Anda melihat ada yang memasang gambar makhluk yang bernyawa atau ada orang-orang yang sedang bermain musik di jalanan. Jika Anda memiliki kekuasaan untuk mengubahnya, artinya jika Anda mengingkarinya maka orang-orang tersebut akan menerima, maka tidak ada uzur bagi Anda. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Anda untuk berbuat demikian. Akan tetapi jika Anda bukan termasuk orang yang memiliki kekuasaan, “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Adapun jika Anda termasuk orang-orang yang mempunyai kekuasaan dengan lisan Anda dalam masalah ini, maka Anda dapat mengatakan pada orang tersebut, “Ini adalah sebuah kemungkaran, maka lepas gambar itu!!”. Akan tetapi jika Anda menggunakan tangan Anda kemudian menghancurkan gambar tersebut padahal Anda bukanlah orang yang memiliki kekuasaan dalam hal ini, maka hal seperti ini tidak boleh Anda lakukan karena Anda tidak berhak berbuat seperti itu. Yang berhak adalah orang yang memiliki kekuasaan dalam perkara tersebut. Adapun mengingkarinya dengan lisan, maka anda tidak memiliki uzur atas hal tersebut.

Akan tetapi jika ada yang berkata, “Demi Alloh, saya tidak berani mengingkari dengan lisan saya karena saya adalah orang asing di negeri ini. Jika saya mengingkarinya, akan terjadi sesuatu pada diri saya”. Maka jika kondisinya seperti ini, Anda adalah orang yang diberi uzur dan hendaklah Anda mengingkari dengan hati Anda. Contoh yang lain, jika ada orang yang mengatakan, “Saya telah melihat sekelompok orang mengelilingi sebuah mobil yang di dalamnya ada seorang wanita, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya adalah orang yang lemah.” Maka pada kondisi seperti ini, syariat tidak memerintahkan Anda untuk mengingkari hal tersebut karena Anda tidak mampu melakukannya.

Para ulama telah membagi ketidakmampuan dalam hal ini menjadi dua bagian. Yang pertama adalah ketidakmampuan yang terkait dengan ilmu, misalnya jika ada seseorang menyaksikan suatu hal yang mengganjal hatinya namun dia tidak memiliki ilmu untuk melarang dan berbicara tentang hal tersebut. Maka hendaknya orang ini tidak mengingkari maupun mengubah sesuatu hal yang dia anggap mungkar tadi.

Ketidakmampuan yang kedua adalah ketidakmampuan yang terkait dengan fisik. Misalnya jika lisan Anda tidak mampu untuk memperingatkan pelaku kemungkaran atau Anda khawatir mereka akan memukuli Anda atau berbuat sesuatu yang memudhorotkan Anda atau Anda tidak kuat untuk melakukannya. Maka dalam kondisi seperti ini, syariat memberikan kelonggaran pada Anda. Segala puji bagi Alloh atas kemudahan dan keluasan yang Dia berikan.
Akan tetapi, bukan dikatakan tidak mampu jika seseorang takut celaan orang lain. Terkadang syaitan mendatangi seseorang sambil mengatakan, “Jangan engkau ingkari kemungkaran dengan tergesa-gesa, Anda bukanlah orang yang punya kemampuan dalam melakukannya” dan lain sebagainya. Celaan orang lain bukanlah uzur bagi Anda. Alloh berfirman ketika mendeskripsikan Nabi dan para sahabatnya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Alloh dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imron: 173)

Alloh jalla wa ‘ala berfirman ketika menyebutkan sifat orang-orang yang beriman,

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“Yang berjihad dijalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al Maaidah: 54)

Mereka tidak takut celaan orang lain. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit beliau berkata, “Kami telah berbaiat kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu mengatakan bagaimana pun keadaan kami serta tidak takut dengan celaan orang lain”. Oleh karena itu, celaan orang lain bukanlah alasan untuk tidak beramar ma’ruf nahi munkar. Jika anda yakin bahwa orang-orang akan mencela Anda, Anda tetap tidak punya uzur dalam hal tersebut dan Anda tetap wajib untuk menunaikan amar ma’ruf nahi munkar.

Akhirnya, kita akan menutup pembicaraan kita pada kesempatan ini sebagaimana kita membukanya. Kita menutup dengan memuji Alloh jalla wa ‘ala dan kita meminta kepada Alloh agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang menolong agamanya dan menjadikan kita para dai yang menyeru pada kebaikan. Dan semoga Alloh menjadikan umat ini sebagai umat yang berada di atas kebenaran dan senantiasa menegakkan kebenaran dan tidak ternodai oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Dan semoga Alloh senantiasa melindungi orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan yang mencegah kemungkaran baik orang yang dibebani dengan tugas tersebut secara khusus ataupun para dai yang menyeru kebaikan secara umum. Semoga Alloh menerangi cahaya-cahaya bagi orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar dan memadamkan cahaya-cahaya musuh-musuhnya. Semoga Alloh senantiasa menjadikan mereka orang-orang yang teguh di atas petunjuk dan menghasilkan kebaikan dengan nasihat-nasihatnya. Kemudian kita meminta kepada Alloh agar memperbaiki para pemimpin kita, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Moga juga Alloh meninggikan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar melalui para pemimpin kita karena sesungguhnya hanya Dialah yang membolak-balikkan hati. Kita berdoa kepada Alloh dan kita memohon supaya Alloh jalla wa ‘ala mengabulkannya. Kita meminta kepada-Nya pada awal dan akhir pertemuan ini untuk mewafatkan kita dalam keadaan berislam bukan termasuk orang-orang yang menyesal dan merugi. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Tanya Jawab

Pertama

Pertanyaan

Kepada Syaikh yang terhormat, tadi anda menyinggung tentang fitnah perkataan dan amal perbuatan, kami mohon untuk dijelaskan lebih lanjut, jazaakumullohu kohir.

Jawab

Saya telah menyebutkan tentang fitnah perkataan dan perbuatan dalam rangka meminta perlindungan dari keduanya. Kita berlindung dari fitnah perkataan dan perbuatan. Memohon perlindungan dari hal ini telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Mereka meminta perlindungan kepada Alloh dari fitnah ucapan dan perbuatan. Perkataan dapat tercemar dengan fitnah begitu pula dengan amal perbuatan. Di antara fitnah perkataan adalah tidak adanya rasa ikhlas dalam berkata dan dipenuhi dengan riya. Atau agar disebut, “Fulan adalah seorang yang pandai berbicara, dia adalah seorang yang alim” dan lain sebagainya. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menjadi fitnah pada perkataan seseorang. Oleh karena itu disebutkan bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat adalah sedikitnya orang-orang yang alim dan banyaknya para khatib. Makna “sedikitnya orang-orang yang alim” adalah sedikitnya orang-orang yang benar dalam perkataan dan perbuatannya dan banyaknya para khatib/penceramah (tukang bicara) yang menyebarkan keraguan dan sedikit sekali manfaat yang bisa dipetik dari perkataannya karena mereka menebarkan fitnah dalam ucapannya. Begitu pula dengan amal perbuatan,di dalamnya terdapat fitnah. Yang termasuk dalam fitnah perbuatan adalah sikap ‘ujub (membanggakan diri). Sebagian orang melakukan amal kebaikan namun dia merasa besar dan berbangga diri dengan amal tersebut. Dia beramal, namun dengan amal tersebut, dia semakin rendah di mata Robb-nya sehingga terhapuslah amal perbuatannya. Inilah yang menimpa sebagian orang. Demikian pula, ada sebagian orang yang diberi taufik sehingga tidak terkena fitnah dalam amalnya. Dia berbuat sebuah amal perbuatan namun dia senantiasa berharap dan takut apakah amalnya diterima atau tidak? Dia berbuat amal perbuatan namun dia senantiasa berhati-hati seakan-akan dia sedang berjalan di atas jalan yang penuh duri. Dia berhati-hati dari perkataan yang panjang yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari melakukan perbuatan yang tidak memiliki dalil syar’i. Dia berhati-hati dari amal perbuatan yang dilakukannya namun dia riya dengan amalnya, riya dengan tilawahnya, riya dengan sholatnya, riya dengan ilmunya, riya dengan pembelajarannya, riya dengan menuntut ilmunya dan hal lainnya yang tidak diragukan lagi akan menjadikannya rendah di mata Robbnya sehingga terhapuslah amalnya.

Sebagian yang lain, senantiasa menganggap kecil amal yang dilakukannya, dan dia berdoa pada Alloh agar menerima amalnya. Hal ini telah digambarkan oleh Alloh jalla wa ‘ala dalam firman-Nya di surat Al Mukminin,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al Mukminun: 60,61)

Dia berbuat baik, bersedekah, dan beramal kebaikan lainnya namun hatinya tidaklah merasa takjub dengan amalnya akan tetapi,

وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Dia ingat dengan firman Alloh jalla wa ‘ala

فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا

“Maka Alloh mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.” (QS Al Hasyr: 2)

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS Az Zumar: 47)

Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa berlindung dari fitnah amal dan perbuatan perlu diperbanyak khususnya bagi orang-orang yang beramal bahkan bagi seluruh kaum mukminin. Semoga Alloh memberikan padaku dan padamu kelurusan dalam perbuatan dan perkataan.

Kedua

Pertanyaan

Pada firman Alloh ta’ala di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Kami mohon Anda menjelaskan tentang makna bashiroh dan jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepadanya?

Jawab

Tentang firman Alloh di akhir surat Yusuf,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (QS Yusuf: 108)

Makna bashiroh adalah segala sesuatu yang bisa menunjukkan jalan-jalan yang telah Alloh perintahkan. Maknanya adalah bahwa bashiroh dalam dakwah (أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ) adalah dengan cahaya dan ilmu dari Alloh. Alloh berfirman,

أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha Suci Alloh dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108)

Maka bashiroh adalah cahaya yang diletakkan dalam hati seseorang untuk mengetahui ilmu tentang Alloh jalla wa ‘ala dan tentang apa yang diturunkan dalam Kitab-Nya serta tentang perkara-perkara yang merupakan sunnah Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bashirohnya adalah dengan bertambahnya ilmu tentang Alloh dan tentang Kitab-Nya. Alloh jalla wa ‘ala telah memerintahkan seorang hamba untuk berdoa,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thoha: 114)

Maka bertambahnya ilmu adalah bertambahnya bashiroh karena dengan ilmu tersebut akan semakin memperjelas Anda. Sebagaimana penglihatan Anda bisa melihat sesuatu, demikian juga dengan hati Anda. Hati Anda dapat melihat yang benar dan yang batil. Dia dapat membedakan antara jalan yang terang dengan jalan yang gelap. Dia dapat membedakan antara jalan yang bermanfaat dalam dakwah dan jalan yang tidak bermanfaat. Hati tersebut juga dapat membedakan antara jalan yang telah Alloh ridhoi untuk ditempuh dan jalan yang tidak diridhoi untuk ditempuh. Walhasil, bashroh adalah pokok dari seluruh perkara dakwah dari awal hingga akhirnya.

Ketiga

Pertanyaan

Bagaimana derajat hadits, “Ya Alloh muliakanlah Islam dengan salah satu di antara dua Umar yang Engkau cintai”?

Jawab

Hadits tersebut adalah hadits yang sahih. Hadits ini diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits diantaranya, Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat dengan sanad yang kuat dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan juga diriwayatkan oleh sejumlah ulama, para ulama mengatakan “Hadits ini Shahih”.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: