jump to navigation

Seri Penjelasan Aqidah Al Wasithiyyah – Pendahuluan (Bag. 2) November 6, 2006

Posted by sabiilunnajaah in Aqidah & Manhaj.
trackback

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Arti Penting Kitab Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah Dalam Mempelajari Aqidah Salaf

Kitab ini telah mendapatkan pujian dan penerimaan dari para ulama dan penuntut ilmu baik terdahulu maupun sekarang. Kitab yang dikarang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini sudah tidak asing lagi bagi mereka, karena kedudukan dan arti pentingnya dalam menjelaskan aqidah Ahlusunnah wal Jamaah. Di antara arti pentingnya adalah:

Pertama, kitab ini telah diakui sangat bermanfaat dalam menjelaskan aqidah salaf walaupun dengan lafadz yang ringkas dan ibarat yang mudah.

Kedua, kandungan Aqidah Wasithiyyah ini seluruhnya bersandarkan kepada Al Quran, Sunnah dan Ijma’ Salaf umat ini dan para imamnya. Ini ada pada lafadz dan maknanya. Hal ini dijelaskan beliau dalam pernyataannya dalam dialog yang terjadi dalam aqidah ini: “Saya dalam aqidah ini sangat memperhatikan petunjuk Al Quran dan Sunnah” (Majmu’ Fatawa 3/165). Dan beliau pun menyatakan, “Semua lafadz yang saya sebutkan (dalam aqidah ini), mesti saya sebutkan juga dengannya ayat atau hadits atau Ijma’ Salaf” (Majmu’ Fatawa 3/189).

Ketiga, isi kandungan kitab ini adalah hasil riset penelitian Syaikhul Islam terhadap perkataan dan pendapat para salaf dalam pembahasan nama dan sifat Alloh, hari akhir, iman, takdir, sahabat dan lain-lainnya dari permasalahan Ushul dan I’tikad. Ini tampak dalam pernyataan beliau, “Tidaklah saya masukkan dalam kitab ini kecuali aqidah seluruh salaf sholeh” (ibid 3/169).

Keempat, pengarang kitab ini (Syaikhul Islam) telah mengerahkan kemampuan dan kesempatannya untuk menjelaskan sejelas-jelasnya jalan Firqatun Najiyah dalam aqidah, sehingga beliau berkata, “Saya telah teliti secara perlahan seluruh orang yang menyelisihi saya pada satu hal dari aqidah ini selama tiga tahun. Jika ada satu huruf dari seorang yang termasuk tiga generasi mulia yang menyelisihi apa yang telah saya sampaikan, maka saya akan rujuk dari hal itu” (Majmu’ Fatawa).

Kelima, kitab aqidah ini walaupun sangat ringkas tapi telah mencakup hampir semua permasalahan I’tikad dan Ushul Iman. (Hal ini diambil dari Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah yang disusun Syaikh Kholid bin Abdillah Al Mushlih, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar Ibnu Al Jauzie, Al Dammaam, hal 5-6).

Demikian, kitab ini telah meraih penerimaan para ulama, sehingga Al Imam Adz Dzahabi menyatakan, “Telah disepakati kitab ini merupakan I’tikad Salafy yang bagus” (Al ‘Uqud Ad Duriyah hal 212). Juga Ibnu Rajab menyatakan, “Telah disepakati, inilah I’tikad Sunni Salafi” (Adz Dzail ‘ala Thobaqatul Hanabilah 2/396).

Demikian juga Syaikh Abdurrahman Assa’diy menyatakan, “Kitab ini dengan ringkas dan jelasnya telah mencakup seluruh I’tikad yang wajib diyakini dalam ushul iman dan aqidah yang shohihah” (At Tanbihat Al Lathifah hal 6).

Syaikh Zaid bin Abdilaziz bin Fayyaadh menyatakan, “Sesungguhnya kitab Al Aqidah Al Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah walaupun kecil dan ringkas namun sangat bermanfaat dan besar faedahnya. Beliau dalam kitab ini telah menjelaskan mazhab salaf dalam aqidah yang selamat dari noda-noda kebidahan dan pemikiran ahli kalam yang sesat”. (Ar Roudhatun Nadiyah Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah karya Zaid bin Abdul Aziz Al Fayaadh, cetakan ketiga tahun 1414 H. Dar Al Wathon, Riyaadh. hal 3)

Oleh karena itulah para ulama dan penuntut ilmu memberikan perhatian serius terhadap kitab ini baik dalam pengajaran atau karya tulis mereka. Mereka menulis Syarah dan Ta’liq (komentar penjelas) terhadap kitab ini. Di antara hasil karya mereka yang berkenaan dengan kitab Al Aqidah Al Wasithiyah adalah sebagai berikut,

Pertama, At Tanbihaatul Lathifah Fimaa Ihtawat ‘Alaihi Al Wasithiyah Minal Mabaahits Al Munifah karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’diy. Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Syarah Aqidah Al Wasithiyah oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz diterbitkan oleh Darul Haq, Jakarta.

Kedua, Al Aqidah Al Wasithiyah yang dita’liq oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz bin Maani’, ini merupakan komentar singkat beliau, diterbitkan di percetakan Saad Ar Rasyiid di Riyadh.

Ketiga, Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Muhammad Kholil Haraas, kitab ini di tahqiq oleh Alwiy bin Abdil Qadir As Saqqaaf, diterbitkan oleh penerbit Darul Hijroh, Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia. Sebelum beliau, kitab ini telah diteliti oleh Syaikh Abdurrazaaq ‘Afifiy dan dicetak oleh Al Jami’ah Al Islamiyah (Universitas Islam Madinah) dalam 176 halaman. Kemudian dicetak lagi dengan pembenahan dan komentar Syaikh Isma’il Al Anshoriy, dicetak di Riasah Al Amaah Liidaratil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’ wad Dakwah wal Irsyaad dalam 187 halaman pada tahun 1403 H. Syarah ini memiliki keistimewaan dalam Syarah yang tidak terlalu panjang, namun hampir semua ibarat Syaikhul Islam telah tersyarah kata perkata.

Keempat, At Tambihatus Sunniyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Abdul Aziz bin Naashir Ar Rosiid. Ini adalah syarah yang cukup panjang lebar dalam 388 halaman dan diterbitkan Dar Ar Rasyid.

Kelima, Al Kawaasyif Al Jaliyah ‘An Ma’aaniy Al Wasithiyah karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman. Dicetak beberapa kali dan dibagikan Cuma-Cuma. Akhir cetakan adalah cetakan ke-17 tahun 1410 dalam 807 halaman.

Keenam, Al Asilah wal Ajwibah Al Ushuliyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Abdul Aziz Ali Salman. Berisi 340 halaman dan dibagikan cuma-cuma.

Ketujuh, Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Sholih bin Fauzaan Ali Fauzan. Beliau salah seorang anggota Majelis Ulama Besar Saudi Arabia. Ini adalah syarah ringkas dan mudah dalam 222 halaman. Beliau banyak bersandar dalam syarah ini kepada kitab At Tambihatus Sunniyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Abdul Aziz bin Naashir Ar Rosiid dan Ar Roudhatun Nadiyah Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Zaid bin Abdil Aziz bin Fayyaadh.

Kedelapan, At Ta’liqatul Mufidah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Abdullah bin Abdurrohman bin Ali Asy Syariif.

Kesembilan, Al Aqidah Al Wasithiyah Wa Majlis Al Munadzaroh Fiha Baina Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah wa ‘Ulama Ashrihi ditahqiq oleh Zuhair Asy Syaawiisy.

Kesepuluh, Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahb Al Qohthoniy.

Kesebelas, Ar Roudhatun Nadiyah Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Zaid bin Abdil Aziz bin Fayyaadh. Kitab yang menjelaskan Aqidah Al Wasithiyah dengan panjang lebar sepanjang 516 halaman.

Keduabelas, Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Ini adalah syarah yang sangat bagus dan indah, sepantasnya dimiliki oleh setiap tholibul ilmu. Dicetak dalam 2 jilid sebanyak 414 halaman di Dar Ibnil Jauziy.

Ketigabelas, Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah min Kalami Syaikhil Islam karya Syaikh Kholid bin Abdillah Al Mushlih. Dalam syarah ini beliau mengambil penukilan pernyataan Syaikhul islam dalam karya-karya tulisnya ditambah sedikit dari pernyataan Ibnul Qayim dalam melengkapi syarahnya. Dicetak dalam 216 halaman di Dar Ibnil Jauziy tahun 1421 H.

Sebab Penamaan Al Aqidah Al Wasithiyyah

Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditulis beliau dengan satu sebab yaitu permintaan Syaikh Radhiuddin Al Waasithiy. Beliau diminta menulis satu tulisan mengenai aqidah salaf Ahlusunnah wal Jamaah karena banyaknya penyimpangan dan kebodohan kaum muslimin terhadap aqidah yang benar. Hal ini beliau jelaskan dalam pernyataannya:

“Seorang qadhi dari wilayah Waasith (Waasith adalah satu wilayah yang dibangun Al Hajjaaj bin Yusuf Ats Tsaqafiy seorang panglima kholifah Abdul Malik bin Marwan. Wilayah ini terletak di bagian selatan negeri Irak di antara kota Kufah dan Bashroh. Wilayah ini menjadi tengah-tengah di antara dua kota ini. Karena inilah dinamakan Waasith. Lihat kitab Tarikh Waasith karya Bahsyal hal 22) bernama Radhiuddin Al Waasithiy yang bermadzhab Syafi’iy datang kepada kami sambil pergi haji. Beliau seorang yang sholeh dan berilmu. Kedatangan beliau kepada kami mengadukan keadaan manusia di negeri tersebut dan di negeri tatar (di bawah kekuasaan bangsa Tatar (Mongol)). Mereka dalam keadaan sangat bodoh dan zalim sampai-sampai mereka kehilangan agama dan ilmu. Beliau meminta saya menulis aqidah yang dapat dijadikan sandaran (pedoman) dia dan keluarganya. Lalu saya merasa sungkan memenuhinya. Maka saya katakana padanya: “Sudah banyak para ulama telah menulis kitab aqidah yang beragam, ambillah darinya aqidah para imam sunnah”. Namun beliau terus meminta kepada saya dan berkata: “Saya hanya menginginkan aqidah yang engkau tulis”. Kemudian saya menuliskan untuknya aqidah ini dalam keadaan duduk setelah ashar. Akhirnya tulisan aqidah ini banyak tersebar di kota Mesir, Iraq dan lainnya.” (Majmu’ Fatawa 3/164).

Karena itulah aqidah ini dinamakan Al Aqidah Al Wasithiyah. Demikian juga aqidah ini merupakan aqidah yang tengah-tengah yang adil sebagaimana Ahlusunnah tengah-tengah di antara kelompok islam yang ada. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan:

Bahkan mereka –yaitu Ahlusunnah wal Jama’ah- wasath (tengah-tengah) di antara kelompok (firqoh) umat islam, sebagaimana umat islam adalah umat tengah-tengah di antara umat yang ada. Mereka (Ahlusunnah) bersikap adil (tengah-tengah) dalam pembahasan sifat Alloh di antara ahlu ta’thil Jahmiyah dan ahlu Tasybih Al Musyabihah. Demikian juga bersikap adil (tengah-tengah) dalam masalah perbuatan Alloh di antara Al Jabariyah dan Al Qadariyah (Syarah Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Kholid Al Mushlih op.cit hal 94-96).

Catatan:

Keterangan tentang ta’thil dan tasbih akan datang kemudian.

Jahmiyah adalah sekte (firqoh) yang berkembang pada akhir daulah bani Umayah dan muncul pertama kali di daerah Turmudz. Mereka adalah pengikut Jahm bin Sofwan At Turmudzi yang dibunuh Salam bin Ahwaz Al Maaziniy di Marw. Sekte ini memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah dalam meniadakan sifat-sifat Alloh, menolak aqidah ahlu Surga melihat Alloh di Syurga (ru’yatullah) dan meyakini Al Quran adalah makhluk. Namun ini lebih parah dari Mu’tazilah karena memiliki ajaran lain yang berbahaya, di antaranya:

  1. Tidak boleh mensifatkan Allah dengan sifat yang dipakai mensifati makhluknya, karena hal itu menunjukkan adanya tasybih (penyerupaan) Allah kepada makhluknya.
  2. Manusia itu majbur (terjajah) dalam amal perbuatannya, ia tidak memiliki kemampuan dan kehendak sedikitpun.
  3. Neraka dan Syurga tidak kekal.
  4. Iman hanyalah mengenal Allah dan tidak bertingkat-tingkat.

Lihat kitab Al Milal Wan Nihal karya Asy Syahrastaniy 1/86-88 dan kitab Maqalaat Islamiyin karya Abul Hasan Al Asy’ariy 1/15 dan catatan kaki pentahqiq kitab Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits hal 162 serta catatan kaki pentahqiq Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Muhammad Kholil Haraas op.cit hal 185

Al Musyabihah atau Mujassimah adalah lawannya Jahmiyah dalam penetapan nama dan sifat Allah. Mereka menyatakan: “Allah memiliki tangan seperti tangan makhluk-Nya, memiliki pendengaran seperti pendengaran makhluk-Nya dan memiliki penglihatan seperti penglihatan makhluknya”. Mereka inilah kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Lihat catatan kaki pentahqiq Syarh Al Aqidah Al Wasitiyah karya Haraas op.cit hal 185. Sehingga benar-benar wasithiyah yang wasath (yang adil tengah-tengah). Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan penyusun syarah ini. Saran kritik anda kami tunggu.

(sumber: muslim or id)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: